 |
| Komplek Candi Arjuna, Dieng, |
Sebagai
negara tropis, Indonesia memiliki beragam
pesona
alam yang dapat memikat mata dan
hati saya sebagai wisatawan lokal serta para wisatawan asing. Ragam pesona alam tersebut terdiri dari jajaran
pulau-pulau dengan pemandangan yang eksotis serta pengunungan atau dataran
tinggi indah nan asri yang tentunya sangat ‘mengoda’ untuk dikunjungi. Salah
satu tempat di tanah air ini yang telah
‘menggoda’ saya untuk berwisata adalah Dieng.
Terletak
di antara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah
(26 km kearah utara dari kota Wonosobo), Dieng menawarkan rangkaian fenomena unik alamnya yang penuh pesona dengan balutan udara dingin, yang tentunya tidak bisa saya rasakan di kota Jakarta.
Nama
Dieng sendiri berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari gabungan dua
kata, yaitu Di yang berarti tempat
dan Hyang yang berarti dewa pencipta.
Jadi secara utuh Dieng memiliki arti tempat bersemayamnya para dewa. Wilayah Dieng berada di ketinggian
rata-rata ±2095 meter di
atas permukaan laut (dpl).
Secara topografi letak Dieng di keliling oleh beberapa gunung , yaitu Gunung
Perahu, Gunung Pakuwojo, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan beberapa
pengunungan kecil lainya. Letak topografi ini mempengaruhi suhu udara di sekitar wilayah Dieng. Jika petang, suhu udara berkisar antara 14 –
20°C dan di malam hari mencapai 10°C. Bahkan pada bulan Juli – Agustus, suhu udara dataran tinggi
ini bisa mencapai 0°C di pagi hari. Banyak
objek wisata alam dan budaya yang menarik untuk dinikmati
tersebar di daerah dataran
tinggi Dieng.
Objek
wisata Dieng
Pertama kali menginjakan kaki di objek wisata Dieng, saya
‘disambut’ kekayaan sejarah abad ke-8, yaitu komplek candi Dieng. Komplek candi Dieng ini merupakan komplek candi Hindu yang terdiri
dari tiga kelompok candi yang berdiri sendiri dalam satu kawasan. Ketiga
kelompok candi tersebut, yaitu kelompok Arjuna, kelompok Gatutkaca dan kelompok
Dwarawati. Luas keseluruhan komplek candi Dieng mencapai 1.8 x 0.8 km².
 |
| Kawah Sikidang |
Setelah puas
melihat deretan candi hindu karya abad ke- 8, langkah kaki saya berlanjut
menuju kawah Sikidang yang tak jauh keberadaanya dari komplek candi Dieng. Kawah
Sikidang merupakan kawah yang terpopuler dan terbesar di Dieng. Banyak
wisatawan yang berkunjung ke kawah ini untuk melihat fenomena alam berupa uap
air dan lava berwarna kelabu yang selalu bergolak dan berpindah-pindah
kemunculannya. Karena kemunculannya yang berpindah-pindah bahkan
melompat-lompat tersebut, maka kawah ini diberi nama Sikidang yang diambil dari
bahasa Indonesia yang berarti Kijang.
Daerah dataran tinggi Dieng atau sering disebut juga dengan Dieng
Plateau terbentuk dari kawah
gunung berapi yang telah mati / tidak aktif. Oleh karena itu, tak heran bila
ditemukan banyak kawah tersebar
di sekitar wilayah ini. Selain
sebagai objek wisata, aktivitas
vulkanik gas/uap panas bumi yang
ditimbulkan dari kawah yang tersebar di wilayah Dieng dapat dimanfaatkan
sebagai sumber pembangkit listrik. Melimpahnya sulfur di sekitar kawah juga
bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuat korek api, bubuk mesiu ataupun bahan
campuran insektisida dan fungisida.
 |
| Gedung Dieng Plateu Theater |
Kemudian langkah kaki saya berlanjut menuju Dieng Plateau
Theater (DPT). Di theater yang berdiri di lereng bukit Sikendil ini, saya dapat
menyaksikan film dokumenter yang bercerita mengenai objek wisata, potensi alam
dan kebudayaan serta kehidupan sosial masyarakat dataran tinggi Dieng. Menyaksikan
film dokumenter ini, semakin memberikan informasi dan pengetahuan kepada saya
dan para wisatawan lainnya akan pesona dan fenomena alam wilayah Dieng.
Setelah menyaksikan film dokumenter tentang Dieng,
langkah kaki saya berlanjut ke jalan setapak yang berada tepat di samping Dieng
Plateau Theater. Menyusuri jalan setapak yang menurun ini membawa saya kepada
fenomena unik lainnya yang dimiliki oleh daerah Dieng, yaitu
telaga warna. Telaga warna merupakan danau vulkanik yang berisi air dengan
campuran belerang. Apabila terkana paparan sinar matahari, danau ini akan
memantulkan sinar yang berwarna biru, kuning ataupun hijau. Jika cuaca
memungkinkan, telaga akan memantulkan variasi seperti warna pelangi. Deretan
pohon dan ranting yang menghiasi
sekeliling pinggir telaga menambah asri dan sejuk suasana objek wisata ini.
 |
| Telaga Warna |
Selain pesona alam yang unik, terdapat juga sebuah
mitos yang menjadi fenomena
dan ciri khas masyarakat
Dieng, yaitu adanya anak berambut gimbal atau gembel. Penasaran dengan mitos
anak berambut gimbal tersebut, saya berusaha mencari tahu keberadaannya dan
beruntung saya bisa menemui salah satu anak yang memiliki rambut gimbal. Masyarakat
sekitar percaya bahwa rambut gimbal yang tumbuh pada anak asli Dieng merupakan titipan
dari nenek moyang mereka, yaitu Kyai Kolodete dan dapat mendatangkan
keberuntungan.
Fenoma unik ini terjadi
di sejumlah desa yang berada di dataran tinggi Dieng pada anak usia 40 hari sampai 6 tahun. Anak
gimbal pada awalnya terserang demam dengan suhu tubuh yang sangat tinggi,
disertai menggigau sewaktu tidur. Gejala-gejala ini tidak bisa diobati
sampai akhirnya akan normal dengan sendirinya, namun
rambut sang anak akan menggimbal. Sebelum anak gimbal tersebut minta untuk dipotong
rambutnya, selama itu juga rambut gimbal pada anak asli Dieng akan terus
tumbuh. Dan untuk mengiringi pemotongan rambut gimbal tersebut, biasanya
digelar prosesi upacara / ruwetan yang
digelar tiap satu tahun sekali.
Dataran tinggi Dieng
merupakan salah satu tempat wisata alam
karya agung Sang Pencipta di bumi nusantara.
Sungguh alam
Dieng yang penuh dengan pesona dan fenomena. Berkunjung ke tempat ini menjadi
pengalaman yang luar biasa.