Selasa, 01 November 2011

SORE YANG SEMPURNA DI BERANDA SEDERHANA


Sore ini begitu sempurna di beranda sederhana. Saya selalu saja terlena dengan alunan nada-nada bossanova, secangkir kafein yang biasa mengakrabi segala suasana, mencium udara mendung sebelum hujan tiba. Semua itu menyatu dan menjadi candu untuk setiap ide-ide saya.

Ada idiom yang mengatakan “Ide itu punya jalannya sendiri, punya kaki dan tangannya sendiri’. Artinya ide itu bagaimanpun cara dan suasananya, akan terus mengalir, tak terbendung dan tak terbatas. Walaupun terkadang ada yang mencoba untuk meretas. Dan nampaknya  berlaku di beranda sederhana saya.

Sedari tadi, ide saya mendapat serangan bertubi-tubi, diganggu oleh beragam cara, berusaha untuk dimatikan dan dikebiri. Tapi seperti yang saya bilang tadi, ide itu punya jalannya sendiri. Jadi sepertinya semua hal itu menjadi usaha yang sia-sia belaka.

Sore ini begitu sempurna di beranda sederhana ini. Hujan tak kunjung jatuh ke bumi. Padahal langit sudah menghitam, menenggalamkan matahari petang sejak tadi. Mungkin jika bulir hujan sudah turun, ide ini bisa semakin menggila dan menari-nari melalui jari-jemari saya,

Suara-suara penyeru Sang Pencipta telah terdengar di beranda sederhana. Pertanda sore sudah berganti malam.  Dan saya harus mengistirahatkan ide sejenak untuk kemudian menggila kembali bersamanya nanti...

Jumat, 07 Oktober 2011

Mendung di beranda sudut Ibu Kota

Mendung tiba di beranda sudut Ibu kota..
Diakrabi kidung-kidung tanah Jawa yang terlantun dari mulut perempuan tua..
Saya serasa terhipnotis ketika bau udara sebelum hujan, suara-suara merdu pesinden dan gamelan tua serta secangkir cappucino panas, menyatu dengan sempurna di beranda sudut Ibu kota.

Rabu, 14 September 2011

DIENG YANG PENUH PESONA DAN FENOMENA


Komplek Candi Arjuna, Dieng,
  Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki beragam pesona alam yang dapat memikat mata dan hati saya sebagai wisatawan lokal serta para wisatawan asing. Ragam pesona alam tersebut terdiri dari jajaran pulau-pulau dengan pemandangan yang eksotis serta pengunungan atau dataran tinggi indah nan asri yang tentunya sangat ‘mengoda’ untuk dikunjungi. Salah satu tempat di tanah air ini yang telah ‘menggoda’ saya untuk berwisata adalah Dieng. 

Terletak di antara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah (26 km kearah utara dari kota Wonosobo), Dieng menawarkan rangkaian fenomena unik alamnya yang penuh pesona dengan balutan udara dingin, yang tentunya tidak bisa saya rasakan di kota Jakarta. 
Nama Dieng sendiri berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari gabungan dua kata, yaitu Di yang berarti tempat dan Hyang yang berarti dewa pencipta. Jadi secara utuh Dieng memiliki arti tempat bersemayamnya para dewa. Wilayah Dieng berada di ketinggian rata-rata ±2095 meter di atas permukaan laut (dpl). Secara topografi letak Dieng di keliling oleh beberapa gunung , yaitu Gunung Perahu, Gunung Pakuwojo, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan beberapa pengunungan kecil lainya. Letak topografi ini mempengaruhi suhu udara di sekitar wilayah Dieng.  Jika petang, suhu udara berkisar antara 14 – 20°C dan di malam hari mencapai 10°C. Bahkan pada bulan Juli – Agustus, suhu udara dataran tinggi ini bisa mencapai 0°C di pagi hari. Banyak objek wisata alam dan budaya yang menarik untuk dinikmati tersebar di daerah dataran tinggi Dieng.
Objek wisata Dieng 
Pertama kali menginjakan kaki di objek wisata Dieng, saya ‘disambut’ kekayaan sejarah abad ke-8, yaitu komplek candi Dieng. Komplek candi Dieng ini merupakan komplek candi Hindu yang terdiri dari tiga kelompok candi yang berdiri sendiri dalam satu kawasan. Ketiga kelompok candi tersebut, yaitu kelompok Arjuna, kelompok Gatutkaca dan kelompok Dwarawati. Luas keseluruhan komplek candi Dieng mencapai 1.8 x 0.8 km².
Kawah Sikidang
Setelah puas melihat deretan candi hindu karya abad ke- 8, langkah kaki saya berlanjut menuju kawah Sikidang yang tak jauh keberadaanya dari komplek candi Dieng. Kawah Sikidang merupakan kawah yang terpopuler dan terbesar di Dieng. Banyak wisatawan yang berkunjung ke kawah ini untuk melihat fenomena alam berupa uap air dan lava berwarna kelabu yang selalu bergolak dan berpindah-pindah kemunculannya. Karena kemunculannya yang berpindah-pindah bahkan melompat-lompat tersebut, maka kawah ini diberi nama Sikidang yang diambil dari bahasa Indonesia yang berarti Kijang.
Daerah dataran tinggi Dieng atau sering disebut juga dengan Dieng Plateau terbentuk dari kawah gunung berapi yang telah mati / tidak aktif. Oleh karena itu, tak heran bila ditemukan banyak kawah tersebar di sekitar wilayah ini. Selain sebagai objek wisata, aktivitas vulkanik gas/uap panas bumi yang ditimbulkan dari kawah yang tersebar di wilayah Dieng dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit listrik. Melimpahnya sulfur di sekitar kawah juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuat korek api, bubuk mesiu ataupun bahan campuran insektisida dan fungisida.
Gedung Dieng Plateu Theater
Kemudian langkah kaki saya berlanjut menuju Dieng Plateau Theater (DPT). Di theater yang berdiri di lereng bukit Sikendil ini, saya dapat menyaksikan film dokumenter yang bercerita mengenai objek wisata, potensi alam dan kebudayaan serta kehidupan sosial masyarakat dataran tinggi Dieng. Menyaksikan film dokumenter ini, semakin memberikan informasi dan pengetahuan kepada saya dan para wisatawan lainnya akan pesona dan fenomena alam wilayah Dieng.
Setelah menyaksikan film dokumenter tentang Dieng, langkah kaki saya berlanjut ke jalan setapak yang berada tepat di samping Dieng Plateau Theater. Menyusuri jalan setapak yang menurun ini membawa saya kepada fenomena unik lainnya yang dimiliki oleh daerah Dieng, yaitu telaga warna. Telaga warna merupakan danau vulkanik yang berisi air dengan campuran belerang. Apabila terkana paparan sinar matahari, danau ini akan memantulkan sinar yang berwarna biru, kuning ataupun hijau. Jika cuaca memungkinkan, telaga akan memantulkan variasi seperti warna pelangi. Deretan pohon dan ranting yang menghiasi sekeliling pinggir telaga menambah asri dan sejuk suasana objek wisata ini.
Telaga Warna
Selain pesona alam yang unik, terdapat juga sebuah mitos yang menjadi fenomena dan ciri khas masyarakat Dieng, yaitu adanya anak berambut gimbal atau gembel. Penasaran dengan mitos anak berambut gimbal tersebut, saya berusaha mencari tahu keberadaannya dan beruntung saya bisa menemui salah satu anak yang memiliki rambut gimbal. Masyarakat sekitar percaya bahwa rambut gimbal yang tumbuh pada anak asli Dieng merupakan titipan dari nenek moyang mereka, yaitu Kyai Kolodete dan dapat mendatangkan keberuntungan.

 Fenoma unik ini terjadi di sejumlah desa yang berada di dataran tinggi Dieng pada anak usia 40 hari sampai 6 tahun. Anak gimbal pada awalnya terserang demam dengan suhu tubuh yang sangat tinggi, disertai menggigau sewaktu tidur. Gejala-gejala ini tidak bisa diobati sampai akhirnya akan normal dengan sendirinya,  namun rambut sang anak akan menggimbal. Sebelum anak gimbal tersebut minta untuk dipotong rambutnya, selama itu juga rambut gimbal pada anak asli Dieng akan terus tumbuh. Dan untuk mengiringi pemotongan rambut gimbal tersebut, biasanya digelar prosesi upacara / ruwetan yang digelar tiap satu tahun sekali. 
Dataran tinggi Dieng merupakan salah satu tempat wisata alam karya agung Sang Pencipta di bumi nusantara. Sungguh alam Dieng yang penuh dengan pesona dan fenomena. Berkunjung ke tempat ini menjadi pengalaman yang luar biasa.

Kamis, 08 September 2011

CITA TENUN INDONESIA

Para anggota Cita Tenun Indonesia.
Jakarta - Kain tenun merupakan salah satu produk warisan nenek moyang dan produk budaya Indonesia yang bernilai tinggi. Produk ini harus selalu dijaga dan dilestarikan keberadaannya, agar tidak punah dilanda perkembangan zaman atau “hilang” diklaim negara lain.  

Untuk melestarikan tenun Nusantara tersebut dibutuhkan berbagai pihak yang peduli akan eksistensi kain tenun tersebut. Pelestarian kain tenun tidak hanya membutuhkan “tangan” para pengrajin itu saja, tetapi juga perlu dukungan dari segenap insan di Indonesia. Inilah yang menjadi visi dan misi Cita Tenun Indonesia (CTI), sebuah perkumpulan para pecinta kain tenun yang diresmikan oleh Ibu Negara, Hj. Ani Bambang Yudhoyono pada 28 Agustus 2008 lalu.

“Pada usianya yang relatif muda, kami berusaha keras untuk menjalankan tiga program kerja yang dirumuskan pada awal pembentukan perkumpulan kami, yaitu : Program pelestarian, Program Pelatihan dan Pengembangan Pengrajin serta Program Pemasaran”, ujar Okke Hatta Rajasa, ketua Pengurus CTI. Saat ini, CTI telah menjadi fasilitator bagi pengembangan kemampuan pengrajin maupun kualitas tenun di empat daerah binaan, antara lain di Bali, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara dan Baduy. 

Sebagai rencana program tahun ini, CTI sudah berhasil untuk membina pengrajin di Garut, Jawa Barat; Pekalongan, Jawa Tengah; Kalimantan Barat; Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Timur, sebagai daerah binaan selanjutnya. “ Pembinaan yang kami lakukan dinilai berhasil, terbukti dari bertambah banyaknya pesanan tenun pada pengrajin”, jelas Okke. Dengan demikian diharapkan agar tenun para pengrajin sanggup bersaing dengan pasar dan standar internasional.

CTI juga bekerjasama dengan Museum Tekstil Indonesia  dan berbagai museum internasional dalam menyelenggarakan pameran kain tenun langka seperti penyelenggaraan Pameran Tekstil Indonesia dan Jepang sampai dengan meminjamkan koleksi tenun songket Limar kepada Museum Tekstil di Washington DC, Amerika Serikat. Selain itu, CTI berupaya agar produk budaya kain tenun Indonesia mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai “pemilik asli” tenun Nusantara.

Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-2, CTI mempersembahkan sebuah pergelaran akbar bertajuk Pesta Tenun yang digelar di Ballroom The Ritz Carlton, Pacifik Place, Jakarta di bulan Agustus lalu. CTI berinovasi dengan memasukan kain tenun ke dalam dunia desain interior dan menyemarakan desain fashion dalam acara ini. Pesta Tenun juga makin semarak dengan diluncurkannya buku tentang tenun Indonesia yang berjudul TENUN Handwoven Textiles of Indonesia. Rangkaian kegiatan ini makin mengukuhkan keberadaan dan kontribusi CTI bagi bangsa dan negara. (Noer Iman Juniarto A.P.P / Majalah Griya Asri, Edisi Oktober 2010, hal. 66)

Rabu, 07 September 2011

OSRAM & GTZ Membudayakan Hemat Energi

National Marketing Manager OSRAM, Lydia Karnadi.
Tangerang - Dalam rangka membudayakan gerakan penghematan energi di Indonesia, produsen lampu dan organisasi federal Jerman, OSRAM & Gesellschaft Technische Zusammenarbelt (GTZ), membuat rangkaian kegiatan yang diikuti oleh 40 sekolah.

Ke-40 sekolah tersebut terdiri dari beberapa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang tersebar di delapan wilayah kota besar Indonesia. Kegiatan ini dilakukan dengan cara memberikan workshop hemat energi kepada guru-guru dan murid serta mengganti lampu pijar dengan lampu OSRAM.

“Kami sengaja memilih target sekolah dasar dan sekolah kejuruan, karena diharapkan pendidikan hemat energi ini lebih efektif diterapkan”, ujar Lydia Karnadi, National Marketing Manager OSRAM. Ldyia menambahkan, bahwa rangkaian program yang telah berlangsung selama enam bulan  (Juni-November 2010), telah berhasil melakukan penghematan  hampir 300.000 watt di 32 sekolah.

Sebagai program dibulan desember ini, pihak OSRAM & GTZ mengadakan workshop hemat energi kepada 21 guru Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) di area pabrik lampu OSRAM, Tanggerang, Banten. (Adit)

Minggu, 28 Agustus 2011

Pameran Renewables dan Conbuilds 2011

Jakarta - Messe Munchen International (MMI) Asia bekerja sama dengan Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman (EKONID) akan menyelenggarakan dua pameran yang ada kaitannya dengan sektor infrastruktur di Indonesia. Pameran ini diselenggarakan dari tanggal 13 hingga 16 April 2011 yang akan datang. Dua pameran tersebut terdiri dari Renewables  dan Conbuilds.



Acara ini dijadwalkan berlangsung di Jakarta International Expo (JI Expo), Kemayoran. Renewables  dan Conbuilds yang akan ‘”membuka” pintu bagi sebuah konfrensi dan pameran niaga internasional yang berfokus pada energi, sumber tenaga hijau dan teknologi.

Renewables dan Conbuilds akan menjadi tuan rumah bagi para delegasi dan peserta dari seluruh dunia sebagai tempat untuk berdiskusi tren-tren baru, beragam kesempatan investasi dan ide dalam mengakselerasikan serta memajukan perekonomian hijau Indonesia. Menurut Managing Director dan CEO MMI Asia Pasifik, Ronald Unterburger, Renewables Indonesia memprakarsai, mendukung dan memajukan pertumbuhan infrastruktur hijau di Indonesia.

Pameran infrastruktur ini nantinya terdiri dari dua panggung terpisah. Panggung utama Conbuild Indonesia yang akan menampilkan mesin konstruksi dan bangunan, peralatan, material, kendaraan, teknologi dan jasa layanan. Panggung kedua, yaitu Renewables Indonesia befokus pada energi terbarukan, sumber daya hijau dan teknologi lingkungan (Adit / Majalah Griya Asri, Edisi Oktober 2010, hal 114).

Pameran Budaya “ Indramayu Dari Dekat”

Jakarta - Indramayu dikenal oleh masyarakat Indonesia pada umumnya sebagai daerah penghasil buah mangga, beras dan ikan asin ketimbang kebudayaannya. Untuk memperkenalkan sisi kebudayaan daerah Indramayu, pihak Bentara Budaya Jakarta menggelar pameran kesenian yang bertajuk ‘Indramayu Dari Dekat”.
Pameran yang diselenggarakan di Gedung Bentara Budaya Jakarta ini berlangsung pada awal Agustus lalu, dibuka secara resmi oleh penyanyi asal Indramayu, Iis Dahlia. Dalam sambutannya, Iis Dahlia mengatakan, banyak potensi Indramayu yang perlu digali dan ditampilkan. Indramayu daerah kecil di pesisir pantai utara Jawa, namun memiliki kekhayaan khasanah budaya yang hebat, ujarnya.

Berbagai hasil dari kebudayaan Indramayu berupa kain batik lawas berusia 50 tahun koleksi pengrajin Ibu Charwati, aneka topeng dan wayang kulit koleksi Bapak Taham serta Wayang Golek Cepak koleksi ki dalang Ahmadi tertata apik diruang pameran. Menurut panitia pameran bidang artistik dan koleksi, Ika W Burhan, sebanyak 23 buah koleksi batik lawas, 10 buah kain tenun, 25 wayang golek dan 22 wayang kulit dipamerkan dalam acara ini. Selain produk-produk hasil kebudayaan, pameran kebudayaan ini juga memamerkan karya foto tentang potret Indramayu koleksi Nang Sadewo.

Menurut salah seorang pengamat kain batik, Wendie Razif Soetikno yang ditemui disela-sela acara mengatakan bahwa satu dari sekian kain batik Indramayu yang dipamerkan merupakan batik lawas yang sudah langka. Batik tersebut memiliki motif yang dipengaruhi oleh kebudayaan Tionghoa lewat penggunaan gambar burung Hong. Burung Hong oleh masyarakat China dipercaya sebagai lambang keberuntungan. 

Acara ditutup oleh penampilan sang Maestro Tari Topeng, Mimi Rasinah pewaris ke sembilan dalang Topeng Indramayu yang sudah berumur 80 tahun . Ia berkolaborasi dengan cucunya mempertunjukan Tarian Panji Ronggo Sukma. Walaupun menderita stroke dan sudah tua, jari-jemari Mimi Rasinah masih fasih melakukan setiap gerak tari dan berhasil memukau penonton yang hadir di selasar Gedung Bentara Budaya. (Adit / Majalah Griya Asri)