![]() |
| Petugas Satpol PP Kecamatan Tebet melakukan penertiban lapak-lapak PKL di sepanjang Jalan Tebet Barat Dalam V, Jakarta Selatan. |
Debu-debu dari bongkaran lapak-lapak PKL di daerah Tebet Barat menyeruak berterbangan ke udara, pagi itu. Partikelnya tak hanya menyesakan saluran pernapasan, namun juga menyisakan nelangsa di hati.
Saat itu hari Rabu, 05 Agustus 2015 menjadi tanggal yang tak biasa buat saya dan mungkin untuk beberapa teman-teman semasa SMA dulu. Ada kegelisahan ketika sebuah warung kopi sederhana bernama Warung Maman harus rata dengan tanah bersama deretan lapak di sepanjang Jalan Tebet Barat Dalam V lainnya karena ditertibkan oleh Satpol PP.
Beberapa minggu sebelumnya, saya merasa merinding ketika seorang teman menunjukan selembar kertas dari pihak terkait. “Apa ini ?” Tanya saya. “Itu surat peringatan penggusuran”, jawab teman saya yang terlihat tak terlalu bersemangat. “Yaah..kalau nanti dibongkar kita nongkrong di mana lagi ?”, ujar teman saya lainnya dengan ekspresi wajah kecewa.
Beberapa minggu sebelumnya, saya merasa merinding ketika seorang teman menunjukan selembar kertas dari pihak terkait. “Apa ini ?” Tanya saya. “Itu surat peringatan penggusuran”, jawab teman saya yang terlihat tak terlalu bersemangat. “Yaah..kalau nanti dibongkar kita nongkrong di mana lagi ?”, ujar teman saya lainnya dengan ekspresi wajah kecewa.
Nama warung itu diambil dari nama sang pemiliknya, Maman. Desain bangunannya hanya terbuat dari lembaran-lembaran triplek serta kayu kaso bercat hijau sebagai dinding dan strukturnya. Atapnya, ditutup hanya dengan menggunakan asbes. Interiornya pun di tata hanya sekedarnya. Tak ada furnitur mewah seperti layaknya coffee shop masa kini. Hanya ada bangku kayu panjang dengan meja bulat bekas gulungan kabel PLN. Namun, kehadirannya mampu menjalin sebuah pertemanan yang luar biasa.
Melihat satu demi satu struktur bilah kayu yang menopang warung itu dilepas, membuat hati ngilu. Saya merasakan kesedihan mendalam yang nampak pada raut muka Maman dan Uki, adiknya. Mereka harus merelakan tempat yang menjadi sumber pendapatan dirinya dan keluarga selama belasan tahun, dibongkar. Saya tidak menyalahkan apa yang dilakukan oleh Satpol PP. Saya sadar dan tahu bahwa keberadaan lapak-lapak itu menyalahi aturan karena berada di tempat yang tidak semestinya. Tapi, tak bisa dielakan ada semacam perasaan ‘tidak rela’ yang saya rasakan.
Kurang lebih sudah sekitar dua belas tahun tempat itu punya arti lebih bagi kami yang kebanyakan alumni sebuah SMA di sekitar situ. Warung Maman sudah menjadi ‘melting pot’ untuk saya dan puluhan teman-teman sejak masih berseragam putih abu-abu.
Melihat satu demi satu struktur bilah kayu yang menopang warung itu dilepas, membuat hati ngilu. Saya merasakan kesedihan mendalam yang nampak pada raut muka Maman dan Uki, adiknya. Mereka harus merelakan tempat yang menjadi sumber pendapatan dirinya dan keluarga selama belasan tahun, dibongkar. Saya tidak menyalahkan apa yang dilakukan oleh Satpol PP. Saya sadar dan tahu bahwa keberadaan lapak-lapak itu menyalahi aturan karena berada di tempat yang tidak semestinya. Tapi, tak bisa dielakan ada semacam perasaan ‘tidak rela’ yang saya rasakan.
Kurang lebih sudah sekitar dua belas tahun tempat itu punya arti lebih bagi kami yang kebanyakan alumni sebuah SMA di sekitar situ. Warung Maman sudah menjadi ‘melting pot’ untuk saya dan puluhan teman-teman sejak masih berseragam putih abu-abu.
Mungkin orang
awam menganggapnya hanya sekedar warung kopi pinggir jalan biasa.
Tetapi, Saya menganggapnya sudah seperti layaknya ‘rumah kedua’. Rumah
untuk berbagi cerita senang maupun sedih. Rumah untuk belajar berteman
dan menghargai. Rumah untuk lepas dari kebosanan aktifitas sehari-hari.
Rumah yang telah menjadi ‘alun-alun’ bagi penghuninya, karena setiap
janjian kesana kemari, titik temunya di sini. Rumah bagi kami untuk
selalu pulang kembali, karena nikmatnya rasa segelas kopi susu empat
ribuan saat bersama teman-teman yang hebat.
Kalau sudah
begini, hanya ada rindu yang dirasa. Rindu akan kebersamaan di ‘rumah
kedua’. “Maman ngucapin terima kasih untuk semuanya yang gak cuma ada
saat senang aja, ketika susah pun masih ingat sama dia. Silaturahmi
harus tetap dijaga”, kata teman saya menyampaikan pesan Maman lewat
status media sosialnya.
Semoga saja ceritanya tak sampai di sini. Karena, kebersamaan dan persahabatan itu rumahnya di hati. Jadi, walaupun Warung Maman sudah tak ada, namun kenangan di dalamnya menjadi magnet bagi penghuninya untuk selalu bertemu dan bersapa lagi. Dan semoga saja setelah ini, Maman diberikan kemudahan memulai usahanya kembali untuk nafkah anak dan istrinya.
