Tampilkan postingan dengan label Opini Saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini Saya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Agustus 2015

Cerita 'Rumah Kedua'

Petugas Satpol PP Kecamatan Tebet melakukan penertiban lapak-lapak PKL di sepanjang  Jalan Tebet Barat Dalam V, Jakarta Selatan.
 
Debu-debu dari bongkaran lapak-lapak PKL di daerah Tebet Barat menyeruak berterbangan ke udara, pagi itu. Partikelnya tak hanya menyesakan saluran pernapasan, namun juga menyisakan nelangsa di hati.

Saat itu hari Rabu, 05 Agustus 2015 menjadi tanggal yang tak biasa buat saya dan mungkin untuk beberapa teman-teman semasa SMA dulu. Ada kegelisahan ketika sebuah warung kopi sederhana bernama Warung Maman harus rata dengan tanah bersama deretan lapak di sepanjang Jalan Tebet Barat Dalam V lainnya karena ditertibkan oleh Satpol PP.

Beberapa minggu sebelumnya, saya merasa merinding ketika seorang teman menunjukan selembar kertas dari pihak terkait. “Apa ini ?” Tanya saya. “Itu surat peringatan penggusuran”, jawab teman saya yang terlihat tak terlalu bersemangat. “Yaah..kalau nanti dibongkar kita nongkrong di mana lagi ?”, ujar teman saya lainnya dengan ekspresi wajah kecewa.


Nama warung itu diambil dari nama sang pemiliknya, Maman. Desain bangunannya hanya terbuat dari lembaran-lembaran triplek serta kayu kaso bercat hijau sebagai dinding dan strukturnya. Atapnya, ditutup hanya dengan menggunakan asbes. Interiornya pun di tata hanya sekedarnya. Tak ada furnitur mewah seperti layaknya coffee shop masa kini. Hanya ada bangku kayu panjang dengan meja bulat bekas gulungan kabel PLN. Namun, kehadirannya mampu menjalin sebuah pertemanan yang luar biasa.

Melihat satu demi satu struktur bilah kayu yang menopang warung itu dilepas, membuat hati ngilu. Saya merasakan kesedihan mendalam yang nampak pada raut muka Maman dan Uki, adiknya. Mereka harus merelakan tempat yang menjadi sumber pendapatan dirinya dan keluarga selama belasan tahun, dibongkar. Saya tidak menyalahkan apa yang dilakukan oleh Satpol PP. Saya sadar dan tahu bahwa keberadaan lapak-lapak itu menyalahi aturan karena berada di tempat yang tidak semestinya. Tapi, tak bisa dielakan ada semacam perasaan ‘tidak rela’ yang saya rasakan.

Kurang lebih sudah sekitar dua belas tahun tempat itu punya arti lebih bagi kami yang kebanyakan alumni sebuah SMA di sekitar situ. Warung Maman sudah menjadi ‘melting pot’ untuk saya dan puluhan teman-teman sejak masih berseragam putih abu-abu.


Mungkin orang awam menganggapnya hanya sekedar warung kopi pinggir jalan biasa. Tetapi, Saya menganggapnya sudah seperti layaknya ‘rumah kedua’. Rumah untuk berbagi cerita senang maupun sedih. Rumah untuk belajar berteman dan menghargai. Rumah untuk lepas dari kebosanan aktifitas sehari-hari. Rumah yang telah menjadi ‘alun-alun’ bagi penghuninya, karena setiap janjian kesana kemari, titik temunya di sini. Rumah bagi kami untuk selalu pulang kembali, karena nikmatnya rasa segelas kopi susu empat ribuan saat bersama teman-teman yang hebat.

Kalau sudah begini, hanya ada rindu yang dirasa. Rindu akan kebersamaan di ‘rumah kedua’. “Maman ngucapin terima kasih untuk semuanya yang gak cuma ada saat senang aja, ketika susah pun masih ingat sama dia. Silaturahmi harus tetap dijaga”, kata teman saya menyampaikan pesan Maman lewat status media sosialnya.

Semoga saja ceritanya tak sampai di sini. Karena, kebersamaan dan persahabatan itu rumahnya di hati. Jadi, walaupun Warung Maman sudah tak ada, namun kenangan di dalamnya menjadi magnet bagi penghuninya untuk selalu bertemu dan bersapa lagi. Dan semoga saja setelah ini, Maman diberikan kemudahan memulai usahanya kembali untuk nafkah anak dan istrinya.


Kamis, 23 Mei 2013

Berani Untuk Menulis Kembali

 “Menulis adalah sebuah keberanian...”
Pramoedya Ananta Toer


Kutipan dari Pramoedya Ananta Toer, salah seorang sastrawan legendaris Indonesia itu saya lampirkan bukanlah tanpa alasan. Karena, baru saja saya mencoba untuk mengumpulkan remahan-remahan keberanian untuk menulis kembali di ruang ketik maya ini. Keberanian untuk meluangkan waktu di tengah-tengah pekerjaan saya yang tak kenal waktu.

Entah kapan saya terakhir benar-benar meluangkan waktu untuk mengisi ruang maya ini. Saya tidak terlalu ingat kapan saya mencoba untuk berbicara kembali dengan ide saya. Mencoba untuk menangkap apa mau nya sang imaji. Dan saat ini, saya mencoba kembali untuk berani berbagi tulisan dengan banyak orang.  Smoga dengan keberanian yang terus saya kumpulkan untuk menulis kembali di ruang maya ini, bisa menginspirasi dan menghibur yang membacanya.


Selamat menulis dan bertemu kembali, ruang maya! 

Selasa, 01 November 2011

SORE YANG SEMPURNA DI BERANDA SEDERHANA


Sore ini begitu sempurna di beranda sederhana. Saya selalu saja terlena dengan alunan nada-nada bossanova, secangkir kafein yang biasa mengakrabi segala suasana, mencium udara mendung sebelum hujan tiba. Semua itu menyatu dan menjadi candu untuk setiap ide-ide saya.

Ada idiom yang mengatakan “Ide itu punya jalannya sendiri, punya kaki dan tangannya sendiri’. Artinya ide itu bagaimanpun cara dan suasananya, akan terus mengalir, tak terbendung dan tak terbatas. Walaupun terkadang ada yang mencoba untuk meretas. Dan nampaknya  berlaku di beranda sederhana saya.

Sedari tadi, ide saya mendapat serangan bertubi-tubi, diganggu oleh beragam cara, berusaha untuk dimatikan dan dikebiri. Tapi seperti yang saya bilang tadi, ide itu punya jalannya sendiri. Jadi sepertinya semua hal itu menjadi usaha yang sia-sia belaka.

Sore ini begitu sempurna di beranda sederhana ini. Hujan tak kunjung jatuh ke bumi. Padahal langit sudah menghitam, menenggalamkan matahari petang sejak tadi. Mungkin jika bulir hujan sudah turun, ide ini bisa semakin menggila dan menari-nari melalui jari-jemari saya,

Suara-suara penyeru Sang Pencipta telah terdengar di beranda sederhana. Pertanda sore sudah berganti malam.  Dan saya harus mengistirahatkan ide sejenak untuk kemudian menggila kembali bersamanya nanti...

Jumat, 07 Oktober 2011

Mendung di beranda sudut Ibu Kota

Mendung tiba di beranda sudut Ibu kota..
Diakrabi kidung-kidung tanah Jawa yang terlantun dari mulut perempuan tua..
Saya serasa terhipnotis ketika bau udara sebelum hujan, suara-suara merdu pesinden dan gamelan tua serta secangkir cappucino panas, menyatu dengan sempurna di beranda sudut Ibu kota.