Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 November 2016

Menilik Interaksi Seni Para Perupa Asean

 
Karya Zoe Walker dan Neil Bromwich (Inggris) berjudul  “Siege Weapons of Love, Tank”
340 x 150 x 200 cm (2013). Photo by : Adhitya Putra
 


Pameran ini menjadi semacam ‘melting pot’ gagasan dan interaksi seni bagi para
seniman di Indonesia dengan perupa di kawasan ASEAN dan sekitarnya.


 
Berlakunya masa Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tak hanya membawa perubahan pada sektor bisnis saja. Namun, ikut pula mempengaruhi bidang  kreatif di kawasan Asia. Dengan bantuan teknologi, praktis tak ada lagi ‘tembok penghalang’ bagi terjadinya interaksi di kalangan masyarakat dunia. Termasuk saat interaksi tersebut menuju pada kesepakatan sebuah gagasan seni dan berujung pada ‘lahirnya’ karya.

Southeast Asia Plus (SEA+) Triennale menjadi salah satu ajang yang menghubungkan pertumbuhan seni rupa Indonesia dengan perkembangan seni rupa di wilayah Asia Tenggara. Tema “ENCOUNTER: Art from Different Lands” menjadi benang merah yang menghubungkan para seniman lintas negara yang ikut serta pada pameran tiga tahunan yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Galeri Nasional ini.

Berbagai ekspresi ‘seni dari daratan yang berbeda tak hanya menjelaskan pelbagai situasi asal yang melandasi penciptaan setiap karya-karya yang dipamerkan, akan tetapi juga menunjukkan titik awal perspektif, sikap, dan penilaian yang dimiliki oleh masing-masing seniman.

Dikuratori oleh Rizki A. Zaelani, Asikin Hasan, A. Rikrik Kusmara, dan Badrolhisham M. Tahir, tema ‘Encounter’ (pertemuan) dimaknai sebagai gagasan untuk menimbang kembali pengalaman hidup yang diraih secara langsung. Semacam hasil yang dipenuhi oleh interaksi dan relasi yang melibatkan kesadaran dan penghayatan tubuh dalam ruang dan waktu kejadian yang bersifat langsung.

Pengunjung bisa melihat bagaimana 44 seniman dari membingkai gagasan dan ide yang mereka miliki dalam bentuk karya seni rupa berupa lukisan, patung, object, seni cetak, fotografi, videoart, dan seni instalasi. Jumlah seniman tersebut berasal dari 12 negara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Kamboja, Australia, Inggris dan lain-lain.
 
Karya  feminin milik Theresia Agustina Sitorus berjudul "Her Memory, Her Soul: Spirare". Photo by : Adhitya Putra

 Seperti karya yang nampak feminin milik Theresia Agustina Sitorus berjudul "Her Memory, Her Soul: Spirare". Melalui media kain sifon yang digambar berbagai bentuk mahluk hidup, seperti manusia, tumbuhan dan binatang. Kemudian, menyusunnya dengan cara digantung. Ia berusaha berbicara sebuah metafora mengenai semangat batin yang menjadi jiwa setiap mahluk hidup.

“Siege Weapons of Love, Tank” hasil karya seniman asal Inggris, yaitu Zoe Walker and Neil Bromwich, berhasil mencuri perhatian para pengunjung dengan warna pink menyala yang diletakan di dalam ruangan gedung A Galeri Nasional. Mereka seakan ingin menunjukan sebuah misi penuh kasih sayang dengan menggunakan bentuk tank yang diasosiakan penuh kekerasan,


Eugene Soh (Singapore), “Sunday Afternoon on the Island of Singapore” -
200 x 132 cm. Print on Canvas (2014). Photo by : Dok. Galeri Nasional
 
Di sudut ruangan lainnya, terdapat karya lukis Eugene Soh (Singapore), berjudul “Sunday Afternoon on the Island of Singapore”. Karya lukis berukuran 200 x 132 cm ini mencerminkan kenyamanan masyarakat Singapura dalam menikmati hari liburnya.

“Pameran ini menjadi kesempatan berharga bagi para seniman Indonesia untuk menampilkan pencapaian karyanya. SEA+ Triannale 2016 juga sebagai medium untuk menunjukan artikulasi perhatian masing-masing seniman terhadap pelbagai pengalaman hidup dari tempat mereka berasal“, ujar Tubagus ‘Andre’ Sukmana, Kepala Galeri Nasional Indonesia.


Sabtu, 02 April 2016

Filastine Tampil Epic di @America, Jakarta

Duo elektronik lintas negera, Filastine, tampil dengan epic dihadapan penonton di @america, Jakarta. Melalui pertunjukan sinematic dan audiovisual-nya, grup yang beranggotakan Grey Filastine, seorang komposer dan DJ asal Amerika serta rapper wanita, kelahiran Indonesia, Nova Ruth,  menyampaikan ide-ide mereka dalam bermusik.

Salah satu kesenangan saya adalah memotret pertunjukan musik. Hari kamis lalu (31/03), saya mendapatkan informasi di lini massa twitter yang menarik perhatian. Akun (at)america menginfokan bahwa akan ada sebuah pertunjukan musik di tempat mereka yang diselenggarakan pada Jumat (01/04) dengan penampilnya bernama Filastine. Tak banyak info yang saya ketahui tentang duo elektronik lintas negara yang sering memasukan unsur suara-suara etnik kedalam musik mereka ini. Berbekal rasa penasaran dan melihat di Youtube performa live mereka sebelumnya, saya mencoba menangkap ide-ide bermusik mereka melalui bahasa fotografi.














All Photos taken by : Adhitya Putra (Pepeaditya)

Kamis, 08 September 2011

CITA TENUN INDONESIA

Para anggota Cita Tenun Indonesia.
Jakarta - Kain tenun merupakan salah satu produk warisan nenek moyang dan produk budaya Indonesia yang bernilai tinggi. Produk ini harus selalu dijaga dan dilestarikan keberadaannya, agar tidak punah dilanda perkembangan zaman atau “hilang” diklaim negara lain.  

Untuk melestarikan tenun Nusantara tersebut dibutuhkan berbagai pihak yang peduli akan eksistensi kain tenun tersebut. Pelestarian kain tenun tidak hanya membutuhkan “tangan” para pengrajin itu saja, tetapi juga perlu dukungan dari segenap insan di Indonesia. Inilah yang menjadi visi dan misi Cita Tenun Indonesia (CTI), sebuah perkumpulan para pecinta kain tenun yang diresmikan oleh Ibu Negara, Hj. Ani Bambang Yudhoyono pada 28 Agustus 2008 lalu.

“Pada usianya yang relatif muda, kami berusaha keras untuk menjalankan tiga program kerja yang dirumuskan pada awal pembentukan perkumpulan kami, yaitu : Program pelestarian, Program Pelatihan dan Pengembangan Pengrajin serta Program Pemasaran”, ujar Okke Hatta Rajasa, ketua Pengurus CTI. Saat ini, CTI telah menjadi fasilitator bagi pengembangan kemampuan pengrajin maupun kualitas tenun di empat daerah binaan, antara lain di Bali, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara dan Baduy. 

Sebagai rencana program tahun ini, CTI sudah berhasil untuk membina pengrajin di Garut, Jawa Barat; Pekalongan, Jawa Tengah; Kalimantan Barat; Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Timur, sebagai daerah binaan selanjutnya. “ Pembinaan yang kami lakukan dinilai berhasil, terbukti dari bertambah banyaknya pesanan tenun pada pengrajin”, jelas Okke. Dengan demikian diharapkan agar tenun para pengrajin sanggup bersaing dengan pasar dan standar internasional.

CTI juga bekerjasama dengan Museum Tekstil Indonesia  dan berbagai museum internasional dalam menyelenggarakan pameran kain tenun langka seperti penyelenggaraan Pameran Tekstil Indonesia dan Jepang sampai dengan meminjamkan koleksi tenun songket Limar kepada Museum Tekstil di Washington DC, Amerika Serikat. Selain itu, CTI berupaya agar produk budaya kain tenun Indonesia mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai “pemilik asli” tenun Nusantara.

Dalam rangka ulang tahunnya yang ke-2, CTI mempersembahkan sebuah pergelaran akbar bertajuk Pesta Tenun yang digelar di Ballroom The Ritz Carlton, Pacifik Place, Jakarta di bulan Agustus lalu. CTI berinovasi dengan memasukan kain tenun ke dalam dunia desain interior dan menyemarakan desain fashion dalam acara ini. Pesta Tenun juga makin semarak dengan diluncurkannya buku tentang tenun Indonesia yang berjudul TENUN Handwoven Textiles of Indonesia. Rangkaian kegiatan ini makin mengukuhkan keberadaan dan kontribusi CTI bagi bangsa dan negara. (Noer Iman Juniarto A.P.P / Majalah Griya Asri, Edisi Oktober 2010, hal. 66)