![]() |
| Karya Zoe Walker dan Neil Bromwich (Inggris) berjudul “Siege Weapons of Love, Tank” 340 x 150 x 200 cm (2013). Photo by : Adhitya Putra |
Pameran ini menjadi semacam ‘melting pot’ gagasan dan interaksi seni bagi para
seniman di Indonesia dengan perupa di kawasan ASEAN dan sekitarnya.
Berlakunya masa Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tak hanya membawa perubahan pada sektor bisnis saja. Namun, ikut pula mempengaruhi bidang kreatif di kawasan Asia. Dengan bantuan teknologi, praktis tak ada lagi ‘tembok penghalang’ bagi terjadinya interaksi di kalangan masyarakat dunia. Termasuk saat interaksi tersebut menuju pada kesepakatan sebuah gagasan seni dan berujung pada ‘lahirnya’ karya.
Southeast Asia Plus (SEA+) Triennale menjadi salah satu ajang yang menghubungkan pertumbuhan seni rupa Indonesia dengan perkembangan seni rupa di wilayah Asia Tenggara. Tema “ENCOUNTER: Art from Different Lands” menjadi benang merah yang menghubungkan para seniman lintas negara yang ikut serta pada pameran tiga tahunan yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Galeri Nasional ini.
Berbagai ekspresi ‘seni dari daratan yang berbeda tak hanya menjelaskan pelbagai situasi asal yang melandasi penciptaan setiap karya-karya yang dipamerkan, akan tetapi juga menunjukkan titik awal perspektif, sikap, dan penilaian yang dimiliki oleh masing-masing seniman.
Dikuratori oleh Rizki A. Zaelani, Asikin Hasan, A. Rikrik Kusmara, dan Badrolhisham M. Tahir, tema ‘Encounter’ (pertemuan) dimaknai sebagai gagasan untuk menimbang kembali pengalaman hidup yang diraih secara langsung. Semacam hasil yang dipenuhi oleh interaksi dan relasi yang melibatkan kesadaran dan penghayatan tubuh dalam ruang dan waktu kejadian yang bersifat langsung.
Pengunjung bisa melihat bagaimana 44 seniman dari membingkai gagasan dan ide yang mereka miliki dalam bentuk karya seni rupa berupa lukisan, patung, object, seni cetak, fotografi, videoart, dan seni instalasi. Jumlah seniman tersebut berasal dari 12 negara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Kamboja, Australia, Inggris dan lain-lain.
Southeast Asia Plus (SEA+) Triennale menjadi salah satu ajang yang menghubungkan pertumbuhan seni rupa Indonesia dengan perkembangan seni rupa di wilayah Asia Tenggara. Tema “ENCOUNTER: Art from Different Lands” menjadi benang merah yang menghubungkan para seniman lintas negara yang ikut serta pada pameran tiga tahunan yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Galeri Nasional ini.
Berbagai ekspresi ‘seni dari daratan yang berbeda tak hanya menjelaskan pelbagai situasi asal yang melandasi penciptaan setiap karya-karya yang dipamerkan, akan tetapi juga menunjukkan titik awal perspektif, sikap, dan penilaian yang dimiliki oleh masing-masing seniman.
Dikuratori oleh Rizki A. Zaelani, Asikin Hasan, A. Rikrik Kusmara, dan Badrolhisham M. Tahir, tema ‘Encounter’ (pertemuan) dimaknai sebagai gagasan untuk menimbang kembali pengalaman hidup yang diraih secara langsung. Semacam hasil yang dipenuhi oleh interaksi dan relasi yang melibatkan kesadaran dan penghayatan tubuh dalam ruang dan waktu kejadian yang bersifat langsung.
Pengunjung bisa melihat bagaimana 44 seniman dari membingkai gagasan dan ide yang mereka miliki dalam bentuk karya seni rupa berupa lukisan, patung, object, seni cetak, fotografi, videoart, dan seni instalasi. Jumlah seniman tersebut berasal dari 12 negara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Kamboja, Australia, Inggris dan lain-lain.
![]() |
| Karya feminin milik Theresia Agustina Sitorus berjudul "Her Memory, Her Soul: Spirare". Photo by : Adhitya Putra |
Seperti karya yang nampak feminin milik Theresia Agustina Sitorus berjudul "Her Memory, Her Soul: Spirare". Melalui media kain sifon yang digambar berbagai bentuk mahluk hidup, seperti manusia, tumbuhan dan binatang. Kemudian, menyusunnya dengan cara digantung. Ia berusaha berbicara sebuah metafora mengenai semangat batin yang menjadi jiwa setiap mahluk hidup.
“Siege Weapons of Love, Tank” hasil karya seniman asal Inggris, yaitu Zoe Walker and Neil Bromwich, berhasil mencuri perhatian para pengunjung dengan warna pink menyala yang diletakan di dalam ruangan gedung A Galeri Nasional. Mereka seakan ingin menunjukan sebuah misi penuh kasih sayang dengan menggunakan bentuk tank yang diasosiakan penuh kekerasan,
![]() |
Eugene Soh (Singapore), “Sunday Afternoon on the Island of Singapore” - 200 x 132 cm. Print on Canvas (2014). Photo by : Dok. Galeri Nasional |
Di sudut ruangan lainnya, terdapat karya lukis Eugene Soh (Singapore), berjudul “Sunday Afternoon on the Island of Singapore”. Karya lukis berukuran 200 x 132 cm ini mencerminkan kenyamanan masyarakat Singapura dalam menikmati hari liburnya.
“Pameran ini menjadi kesempatan berharga bagi para seniman Indonesia untuk menampilkan pencapaian karyanya. SEA+ Triannale 2016 juga sebagai medium untuk menunjukan artikulasi perhatian masing-masing seniman terhadap pelbagai pengalaman hidup dari tempat mereka berasal“, ujar Tubagus ‘Andre’ Sukmana, Kepala Galeri Nasional Indonesia.
“Pameran ini menjadi kesempatan berharga bagi para seniman Indonesia untuk menampilkan pencapaian karyanya. SEA+ Triannale 2016 juga sebagai medium untuk menunjukan artikulasi perhatian masing-masing seniman terhadap pelbagai pengalaman hidup dari tempat mereka berasal“, ujar Tubagus ‘Andre’ Sukmana, Kepala Galeri Nasional Indonesia.














