Rabu, 14 September 2011

DIENG YANG PENUH PESONA DAN FENOMENA


Komplek Candi Arjuna, Dieng,
  Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki beragam pesona alam yang dapat memikat mata dan hati saya sebagai wisatawan lokal serta para wisatawan asing. Ragam pesona alam tersebut terdiri dari jajaran pulau-pulau dengan pemandangan yang eksotis serta pengunungan atau dataran tinggi indah nan asri yang tentunya sangat ‘mengoda’ untuk dikunjungi. Salah satu tempat di tanah air ini yang telah ‘menggoda’ saya untuk berwisata adalah Dieng. 

Terletak di antara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah (26 km kearah utara dari kota Wonosobo), Dieng menawarkan rangkaian fenomena unik alamnya yang penuh pesona dengan balutan udara dingin, yang tentunya tidak bisa saya rasakan di kota Jakarta. 
Nama Dieng sendiri berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari gabungan dua kata, yaitu Di yang berarti tempat dan Hyang yang berarti dewa pencipta. Jadi secara utuh Dieng memiliki arti tempat bersemayamnya para dewa. Wilayah Dieng berada di ketinggian rata-rata ±2095 meter di atas permukaan laut (dpl). Secara topografi letak Dieng di keliling oleh beberapa gunung , yaitu Gunung Perahu, Gunung Pakuwojo, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan beberapa pengunungan kecil lainya. Letak topografi ini mempengaruhi suhu udara di sekitar wilayah Dieng.  Jika petang, suhu udara berkisar antara 14 – 20°C dan di malam hari mencapai 10°C. Bahkan pada bulan Juli – Agustus, suhu udara dataran tinggi ini bisa mencapai 0°C di pagi hari. Banyak objek wisata alam dan budaya yang menarik untuk dinikmati tersebar di daerah dataran tinggi Dieng.
Objek wisata Dieng 
Pertama kali menginjakan kaki di objek wisata Dieng, saya ‘disambut’ kekayaan sejarah abad ke-8, yaitu komplek candi Dieng. Komplek candi Dieng ini merupakan komplek candi Hindu yang terdiri dari tiga kelompok candi yang berdiri sendiri dalam satu kawasan. Ketiga kelompok candi tersebut, yaitu kelompok Arjuna, kelompok Gatutkaca dan kelompok Dwarawati. Luas keseluruhan komplek candi Dieng mencapai 1.8 x 0.8 km².
Kawah Sikidang
Setelah puas melihat deretan candi hindu karya abad ke- 8, langkah kaki saya berlanjut menuju kawah Sikidang yang tak jauh keberadaanya dari komplek candi Dieng. Kawah Sikidang merupakan kawah yang terpopuler dan terbesar di Dieng. Banyak wisatawan yang berkunjung ke kawah ini untuk melihat fenomena alam berupa uap air dan lava berwarna kelabu yang selalu bergolak dan berpindah-pindah kemunculannya. Karena kemunculannya yang berpindah-pindah bahkan melompat-lompat tersebut, maka kawah ini diberi nama Sikidang yang diambil dari bahasa Indonesia yang berarti Kijang.
Daerah dataran tinggi Dieng atau sering disebut juga dengan Dieng Plateau terbentuk dari kawah gunung berapi yang telah mati / tidak aktif. Oleh karena itu, tak heran bila ditemukan banyak kawah tersebar di sekitar wilayah ini. Selain sebagai objek wisata, aktivitas vulkanik gas/uap panas bumi yang ditimbulkan dari kawah yang tersebar di wilayah Dieng dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit listrik. Melimpahnya sulfur di sekitar kawah juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuat korek api, bubuk mesiu ataupun bahan campuran insektisida dan fungisida.
Gedung Dieng Plateu Theater
Kemudian langkah kaki saya berlanjut menuju Dieng Plateau Theater (DPT). Di theater yang berdiri di lereng bukit Sikendil ini, saya dapat menyaksikan film dokumenter yang bercerita mengenai objek wisata, potensi alam dan kebudayaan serta kehidupan sosial masyarakat dataran tinggi Dieng. Menyaksikan film dokumenter ini, semakin memberikan informasi dan pengetahuan kepada saya dan para wisatawan lainnya akan pesona dan fenomena alam wilayah Dieng.
Setelah menyaksikan film dokumenter tentang Dieng, langkah kaki saya berlanjut ke jalan setapak yang berada tepat di samping Dieng Plateau Theater. Menyusuri jalan setapak yang menurun ini membawa saya kepada fenomena unik lainnya yang dimiliki oleh daerah Dieng, yaitu telaga warna. Telaga warna merupakan danau vulkanik yang berisi air dengan campuran belerang. Apabila terkana paparan sinar matahari, danau ini akan memantulkan sinar yang berwarna biru, kuning ataupun hijau. Jika cuaca memungkinkan, telaga akan memantulkan variasi seperti warna pelangi. Deretan pohon dan ranting yang menghiasi sekeliling pinggir telaga menambah asri dan sejuk suasana objek wisata ini.
Telaga Warna
Selain pesona alam yang unik, terdapat juga sebuah mitos yang menjadi fenomena dan ciri khas masyarakat Dieng, yaitu adanya anak berambut gimbal atau gembel. Penasaran dengan mitos anak berambut gimbal tersebut, saya berusaha mencari tahu keberadaannya dan beruntung saya bisa menemui salah satu anak yang memiliki rambut gimbal. Masyarakat sekitar percaya bahwa rambut gimbal yang tumbuh pada anak asli Dieng merupakan titipan dari nenek moyang mereka, yaitu Kyai Kolodete dan dapat mendatangkan keberuntungan.

 Fenoma unik ini terjadi di sejumlah desa yang berada di dataran tinggi Dieng pada anak usia 40 hari sampai 6 tahun. Anak gimbal pada awalnya terserang demam dengan suhu tubuh yang sangat tinggi, disertai menggigau sewaktu tidur. Gejala-gejala ini tidak bisa diobati sampai akhirnya akan normal dengan sendirinya,  namun rambut sang anak akan menggimbal. Sebelum anak gimbal tersebut minta untuk dipotong rambutnya, selama itu juga rambut gimbal pada anak asli Dieng akan terus tumbuh. Dan untuk mengiringi pemotongan rambut gimbal tersebut, biasanya digelar prosesi upacara / ruwetan yang digelar tiap satu tahun sekali. 
Dataran tinggi Dieng merupakan salah satu tempat wisata alam karya agung Sang Pencipta di bumi nusantara. Sungguh alam Dieng yang penuh dengan pesona dan fenomena. Berkunjung ke tempat ini menjadi pengalaman yang luar biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar