Jumat, 11 November 2016

Menilik Interaksi Seni Para Perupa Asean

 
Karya Zoe Walker dan Neil Bromwich (Inggris) berjudul  “Siege Weapons of Love, Tank”
340 x 150 x 200 cm (2013). Photo by : Adhitya Putra
 


Pameran ini menjadi semacam ‘melting pot’ gagasan dan interaksi seni bagi para
seniman di Indonesia dengan perupa di kawasan ASEAN dan sekitarnya.


 
Berlakunya masa Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tak hanya membawa perubahan pada sektor bisnis saja. Namun, ikut pula mempengaruhi bidang  kreatif di kawasan Asia. Dengan bantuan teknologi, praktis tak ada lagi ‘tembok penghalang’ bagi terjadinya interaksi di kalangan masyarakat dunia. Termasuk saat interaksi tersebut menuju pada kesepakatan sebuah gagasan seni dan berujung pada ‘lahirnya’ karya.

Southeast Asia Plus (SEA+) Triennale menjadi salah satu ajang yang menghubungkan pertumbuhan seni rupa Indonesia dengan perkembangan seni rupa di wilayah Asia Tenggara. Tema “ENCOUNTER: Art from Different Lands” menjadi benang merah yang menghubungkan para seniman lintas negara yang ikut serta pada pameran tiga tahunan yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Galeri Nasional ini.

Berbagai ekspresi ‘seni dari daratan yang berbeda tak hanya menjelaskan pelbagai situasi asal yang melandasi penciptaan setiap karya-karya yang dipamerkan, akan tetapi juga menunjukkan titik awal perspektif, sikap, dan penilaian yang dimiliki oleh masing-masing seniman.

Dikuratori oleh Rizki A. Zaelani, Asikin Hasan, A. Rikrik Kusmara, dan Badrolhisham M. Tahir, tema ‘Encounter’ (pertemuan) dimaknai sebagai gagasan untuk menimbang kembali pengalaman hidup yang diraih secara langsung. Semacam hasil yang dipenuhi oleh interaksi dan relasi yang melibatkan kesadaran dan penghayatan tubuh dalam ruang dan waktu kejadian yang bersifat langsung.

Pengunjung bisa melihat bagaimana 44 seniman dari membingkai gagasan dan ide yang mereka miliki dalam bentuk karya seni rupa berupa lukisan, patung, object, seni cetak, fotografi, videoart, dan seni instalasi. Jumlah seniman tersebut berasal dari 12 negara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Kamboja, Australia, Inggris dan lain-lain.
 
Karya  feminin milik Theresia Agustina Sitorus berjudul "Her Memory, Her Soul: Spirare". Photo by : Adhitya Putra

 Seperti karya yang nampak feminin milik Theresia Agustina Sitorus berjudul "Her Memory, Her Soul: Spirare". Melalui media kain sifon yang digambar berbagai bentuk mahluk hidup, seperti manusia, tumbuhan dan binatang. Kemudian, menyusunnya dengan cara digantung. Ia berusaha berbicara sebuah metafora mengenai semangat batin yang menjadi jiwa setiap mahluk hidup.

“Siege Weapons of Love, Tank” hasil karya seniman asal Inggris, yaitu Zoe Walker and Neil Bromwich, berhasil mencuri perhatian para pengunjung dengan warna pink menyala yang diletakan di dalam ruangan gedung A Galeri Nasional. Mereka seakan ingin menunjukan sebuah misi penuh kasih sayang dengan menggunakan bentuk tank yang diasosiakan penuh kekerasan,


Eugene Soh (Singapore), “Sunday Afternoon on the Island of Singapore” -
200 x 132 cm. Print on Canvas (2014). Photo by : Dok. Galeri Nasional
 
Di sudut ruangan lainnya, terdapat karya lukis Eugene Soh (Singapore), berjudul “Sunday Afternoon on the Island of Singapore”. Karya lukis berukuran 200 x 132 cm ini mencerminkan kenyamanan masyarakat Singapura dalam menikmati hari liburnya.

“Pameran ini menjadi kesempatan berharga bagi para seniman Indonesia untuk menampilkan pencapaian karyanya. SEA+ Triannale 2016 juga sebagai medium untuk menunjukan artikulasi perhatian masing-masing seniman terhadap pelbagai pengalaman hidup dari tempat mereka berasal“, ujar Tubagus ‘Andre’ Sukmana, Kepala Galeri Nasional Indonesia.


Sabtu, 02 April 2016

Filastine Tampil Epic di @America, Jakarta

Duo elektronik lintas negera, Filastine, tampil dengan epic dihadapan penonton di @america, Jakarta. Melalui pertunjukan sinematic dan audiovisual-nya, grup yang beranggotakan Grey Filastine, seorang komposer dan DJ asal Amerika serta rapper wanita, kelahiran Indonesia, Nova Ruth,  menyampaikan ide-ide mereka dalam bermusik.

Salah satu kesenangan saya adalah memotret pertunjukan musik. Hari kamis lalu (31/03), saya mendapatkan informasi di lini massa twitter yang menarik perhatian. Akun (at)america menginfokan bahwa akan ada sebuah pertunjukan musik di tempat mereka yang diselenggarakan pada Jumat (01/04) dengan penampilnya bernama Filastine. Tak banyak info yang saya ketahui tentang duo elektronik lintas negara yang sering memasukan unsur suara-suara etnik kedalam musik mereka ini. Berbekal rasa penasaran dan melihat di Youtube performa live mereka sebelumnya, saya mencoba menangkap ide-ide bermusik mereka melalui bahasa fotografi.














All Photos taken by : Adhitya Putra (Pepeaditya)

Sabtu, 08 Agustus 2015

Cerita 'Rumah Kedua'

Petugas Satpol PP Kecamatan Tebet melakukan penertiban lapak-lapak PKL di sepanjang  Jalan Tebet Barat Dalam V, Jakarta Selatan.
 
Debu-debu dari bongkaran lapak-lapak PKL di daerah Tebet Barat menyeruak berterbangan ke udara, pagi itu. Partikelnya tak hanya menyesakan saluran pernapasan, namun juga menyisakan nelangsa di hati.

Saat itu hari Rabu, 05 Agustus 2015 menjadi tanggal yang tak biasa buat saya dan mungkin untuk beberapa teman-teman semasa SMA dulu. Ada kegelisahan ketika sebuah warung kopi sederhana bernama Warung Maman harus rata dengan tanah bersama deretan lapak di sepanjang Jalan Tebet Barat Dalam V lainnya karena ditertibkan oleh Satpol PP.

Beberapa minggu sebelumnya, saya merasa merinding ketika seorang teman menunjukan selembar kertas dari pihak terkait. “Apa ini ?” Tanya saya. “Itu surat peringatan penggusuran”, jawab teman saya yang terlihat tak terlalu bersemangat. “Yaah..kalau nanti dibongkar kita nongkrong di mana lagi ?”, ujar teman saya lainnya dengan ekspresi wajah kecewa.


Nama warung itu diambil dari nama sang pemiliknya, Maman. Desain bangunannya hanya terbuat dari lembaran-lembaran triplek serta kayu kaso bercat hijau sebagai dinding dan strukturnya. Atapnya, ditutup hanya dengan menggunakan asbes. Interiornya pun di tata hanya sekedarnya. Tak ada furnitur mewah seperti layaknya coffee shop masa kini. Hanya ada bangku kayu panjang dengan meja bulat bekas gulungan kabel PLN. Namun, kehadirannya mampu menjalin sebuah pertemanan yang luar biasa.

Melihat satu demi satu struktur bilah kayu yang menopang warung itu dilepas, membuat hati ngilu. Saya merasakan kesedihan mendalam yang nampak pada raut muka Maman dan Uki, adiknya. Mereka harus merelakan tempat yang menjadi sumber pendapatan dirinya dan keluarga selama belasan tahun, dibongkar. Saya tidak menyalahkan apa yang dilakukan oleh Satpol PP. Saya sadar dan tahu bahwa keberadaan lapak-lapak itu menyalahi aturan karena berada di tempat yang tidak semestinya. Tapi, tak bisa dielakan ada semacam perasaan ‘tidak rela’ yang saya rasakan.

Kurang lebih sudah sekitar dua belas tahun tempat itu punya arti lebih bagi kami yang kebanyakan alumni sebuah SMA di sekitar situ. Warung Maman sudah menjadi ‘melting pot’ untuk saya dan puluhan teman-teman sejak masih berseragam putih abu-abu.


Mungkin orang awam menganggapnya hanya sekedar warung kopi pinggir jalan biasa. Tetapi, Saya menganggapnya sudah seperti layaknya ‘rumah kedua’. Rumah untuk berbagi cerita senang maupun sedih. Rumah untuk belajar berteman dan menghargai. Rumah untuk lepas dari kebosanan aktifitas sehari-hari. Rumah yang telah menjadi ‘alun-alun’ bagi penghuninya, karena setiap janjian kesana kemari, titik temunya di sini. Rumah bagi kami untuk selalu pulang kembali, karena nikmatnya rasa segelas kopi susu empat ribuan saat bersama teman-teman yang hebat.

Kalau sudah begini, hanya ada rindu yang dirasa. Rindu akan kebersamaan di ‘rumah kedua’. “Maman ngucapin terima kasih untuk semuanya yang gak cuma ada saat senang aja, ketika susah pun masih ingat sama dia. Silaturahmi harus tetap dijaga”, kata teman saya menyampaikan pesan Maman lewat status media sosialnya.

Semoga saja ceritanya tak sampai di sini. Karena, kebersamaan dan persahabatan itu rumahnya di hati. Jadi, walaupun Warung Maman sudah tak ada, namun kenangan di dalamnya menjadi magnet bagi penghuninya untuk selalu bertemu dan bersapa lagi. Dan semoga saja setelah ini, Maman diberikan kemudahan memulai usahanya kembali untuk nafkah anak dan istrinya.


Minggu, 30 Juni 2013

Wujudkan Passion Bersama Aspire P3 Hybrid Ultrabook

Penulis : Adhitya P. Pratama

Foto : doc www.acerid.com
Ketika jaman semakin modern, peran sebuah perangkat teknologi menjadi sangat fundamental dan krusial dalam mendukung aktivitas apapun. Kini, perangkat teknologi dituntut untuk memiliki mobilitas dan kinerja tinggi demi menunjang pekerjaan sehari-hari ataupun mengisi waktu luang dengan berbagai fitur hiburan. Bahkan perangkat teknologi yang tepat, bisa membantu karir serta mewujudkan sebuah passion yang terpendam dari penggunanya.

Sebelum membahas bagaimana peran perangkat teknologi dapat membantu karir dan mewujudkan mimpi penggunanya, saya akan membahas mengenai konsep passion. Semua manusia pastilah punya passion-nya masing-masing dalam berkarir. Namun, terkadang banyak orang yang kurang menyadari hal itu dan cenderung memendamnya dalam-dalam. Berbicara soal karir dan passion, adalah dua hal yang berbeda tetapi saling berkaitan. Lalu, seperti apa sih konsep passion dalam berkarir itu ?

Dikutip dari www.indonesiamengajar.org, Rene Suhardono, salah seorang Career Coach ternama di Tanah Air, berujar bahwa Passion bukanlah segala sesuatu yang dikuasai, namun yang kita cintai. Passion merupakan salah satu unsur karir. Karir haruslah melibatkan passion, tujuan hidup, values, ketercapaian dan kebahagiaan.

Membaca kutipan di atas, maka dapat diartikan seseorang berada di "jalur yang benar" dalam karirnya, ketika ia bekerja sesuai dengan passion (kegemarannya). Hasil pekerjaan atau aktivitas seseorang akan maksimal, jika dilakukan dengan sepenuh hati. Apabila sudah begitu, biasanya sesulit apapun masalah yang ditemui saat bekerja, seseorang tetap senang dan enjoy menghadapinya.

Peran Teknologi
Sangat naïf rasanya jika berbicara karir dan passion, namun menyampingkan peran perangkat teknologi. Seperti yang sudah saya singgung di atas, bahwa menjadi sangat penting melibatkan sebuah perangkat teknologi dalam berbagai aktivitas demi meraih karir impian dan passion kita. Termasuk untuk membantu hidden passion saya dibidang tulis menulis dalam bidang jurnalistik.

Berbicara perangkat teknologi, baru-baru ini produsen perangkat elektronik asal Taiwan, Acer meluncurkan produk terbaru mereka yang diberi nama Aspire P3 Hybrid Ultrabook. Uniknya, ultrabook ini sengaja didesain untuk ditransformasi dari mode personal computer (PC) menjadi mode tablet. Acer jeli melihat kegemaran masyarakat pengguna gadget di Indonesia telah berkembang kepada teknologi layar sentuh (Touch-centric) dalam aktivitas komputasinya. 

Memakai teknologi prosesor terbaru Intel Core Y series, yang diperuntukan untuk perangkat dengan mobilitas tinggi, Aspire P3 hadir dalam dua pilihan prosesor, yaitu Intel Core i5 dan Intel Core i3. Dengan prosesor tersebut, Aspire P3 merupakan Notebook masa depan yang responsif dan dapat dihandalkan untuk meningkatkan produktivitas kerja. Tak terkecuali bagi profesi Jurnalis yang dituntut untuk selalu bekerja cepat, multitasking dan bermobilitas tinggi.

Dengan menggunakan Windows 8 yang dibenamkan dalam sistem operasi Aspire P3, saya bisa melakukan berbagai aktivitas. Mulai dari menulis artikel di program Office, mengedit foto karya saya, sampai melakukan aktivitas hiburan, seperti menonton film Full HD, bermain games dan lain sebagainya. Hobi saya yang suka memotret dan mengunggahnya di jejaring sosial maupun web fotografi, juga semakin mudah. Karena Aspire P3 dilengkapi oleh kamera 5 Megapixel dibagian belakang yang dapat mengambil gambar dengan Jernih. Pada bagian depannya, Aspire P3 juga dilengkapi oleh kamera yang sanggup memenuhi kebutuhan untuk video conference.

Perangkat elektronik yang memiliki ukuran layar b 11.6” dengan resolusi 1366×768 ini di lengkapi dengan panel IPS yang akan memberikan warna indah dan cemerlang seperti aslinya. Aspire P3 memiliki dimensi 190.77 (W) x 295.4 (D) x 9.95/10.15 (H) mm dengan berat hanya 0.79 kg ketika dalam posisi tablet. Dengan begitu, gadget ini terhitung ramping dan elegan. Karena menggunakan bahan dasar alumunium yang terasa solid ketika digenggam.

Untuk konektivitas, Acer Aspire P3 dapat membantu saya mengunggah karya tulis dan fotografi ataupun hanya sekedar mengirimkan e-mail, secara mudah. Karena perangkat ini dilengkapi dengan Acer InviLink Nplify WiFi 802.11a/b/g/n dan Bluetooth 4.0, sehingga dapat cepat terhubung ke perangkat penunjang lain secara nirkabel. Soal penyimpanan data, Aspire P3 memiliki media penyimpanan data berupa solid state drive (SSD) 60GB atau 120GB. Disertai pula full sized port USB 3.0, dengan begitu saya dapat menyambungkan Aspire P3 ke perangkat eksternal lainnya.

Acer Aspire P3 Hybrid Ultrabook semakin sempurna dengan adanya aplikasi Virtual Disc Jockey (DJ) yang berisi stem dari DJ Tiesto. Sehingga kita dapat mencampur lagu layaknya Superstar DJ. Dengan bantuan aplikasi dari Aspire P3 itu, Vernon, asisten DJ Tiesto, mampu mewujudkan impian dan passionnya menjadi seorang DJ. Anda bisa melihatnya di www.youtube.com/watch?v=7zK-E9th8uQ, bagaimana Vernon tampil seperti seorang DJ profesional di video tersebut dan sukses membuat crowds / penonton berjingkrak-jingkrak.

Sebuah kutipan bagus dari Charley Sweeney yang mengatakan "Purpose of life gives away to vision. Vision creates dream. And dreams become reality". Menurut pendapat saya, semua orang berhak mendapatkan mimpi dari tujuan hidupnya. Baik itu Vernon, saya ataupun anda, semua memiliki passion dalam bidangnya masing-masing yang dapat menghantarkan kepada mimpi yang belum terwujud. Dan, Acer Aspire P3 Hybrid Ultrabook, saya rasa notebook masa depan yang bisa membantu mewujudkan mimpi serta passion saya dan siapa pun.


Minggu, 26 Mei 2013

Arti ‘Kesempurnaan’ Bagi Seorang Fans Musik




Penulis : Adhitya P. Pratama

Radiohead / doc www.lehighvalleylive.com
Jika ditanya, hal apa yang menjadikan seorang pengemar (fans) musik sejati merasa ‘sempurna’? Maka tanpa ragu saya akan berpendapat ketika mereka bisa menyaksikan langsung konser sang musisi idola. Kenapa? Karena bagi saya, ngefans dengan penyanyi atau grup musik tertentu, bukan sebatas tahu dan hapal semua lirik lagu dari band itu. Bukan saja soal berhasil mendapatkan kaset / CD / Vinyl album langka sang idola. Bukan sebatas bangga memakai kaos official dari grup band atau musisi tersebut. Dan bukan saja hanya sekedar poster musisi itu saja yang tertempel erat di dinding ruang kamar tidur sang penggemar. 

Tetapi juga ‘kewajiban’ untuk merasakan secara live bagaimana sang idola mempertunjukan karya terbaik musiknya dengan dukungan sound system berteknologi termutakhir, speaker berkapasitas ribuan watt serta permainan tata cahaya panggung yang memukau. 

Jika selama ini seorang fans dengan setia mendengar semua karya lagu sang musisi. Lalu, menikmati dengan khusuk setiap lagunya dan diresapi secara mendalam setiap liriknya. Hingga tak jarang, aura dari karya lagu-lagu itu menempel sehingga menimbulkan inspirasi tersendiri di dalam kehidupan sehari-hari sang penggemar. Maka datang dan menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri konser dari musisi idola itu seperti ‘penyempurna’ bagi seseorang dalam menikmati sebuah karya musik. Seperti sampai pada puncak tangga teratas dalam proses mencari sisi maksimal menikmati karya musik sang artis.
Jangan heran apabila ada istilah ‘naik haji’ dan ‘umroh’ yang beredar di kalangan penggemar musik. Istilah ‘naik haji’ dan ‘umroh’ bagi mereka adalah jika berhasil menonton konser sang idola yang telah ditunggu lama. Tanpa bermaksud menghina agama tertentu, istilah tersebut ada mungkin karena untuk mewakili perasaan ‘sempurna’ itu.

Bagi saya, bisa merasakan secara langsung bagaimana atmosfer dari sebuah pertunjukan konser musisi idola itu adalah sebuah anugerah. Apalagi jika grup band atau musisi tersebut  berasal dari luar negeri dan termasuk kategori musisi yang sangat popular di dunia.

Koor nyanyian bersama yang terus menerus berkumandang di tengah-tengah crowd penonton. Riuh rendah teriakan-teriakan kekaguman dan kecintaan. Tepukan tangan yang selalu ada di tengah-tengah pergantian dari set list lagu satu ke lagu berikutnya. Serta anggota badan yang selalu bergoyang setiap kali nada-nada dihentakan ke telinga. Belum lagi, perasaan merinding yang timbul akibat reaksi eargasm. Eargasm merupakan puncak menikmati ‘syahwat musikal’ dari nada-nada yang ditangkap oleh telinga kemudian merasuk ke hati dan menjalar ke otak. Dan pada akhirnya membawakan sebuah pesan klimaks berupa rasa kepuasan tersendiri.

Hal-hal itulah yang saya temui dan rasakan ketika berkesempatan menonton secara live konser musisi yang lagunya terhitung sering masuk kedalam playlist mp3 saya. Bagi saya, rasa dan pengalaman itu yang tidak bisa tergantikan dengan apapun. Faktor-faktor itu yang menjadikannya sebuah anugerah tersendiri bagi para fans yang berkesempatan untuk menyaksikan sang musisi idolanya manggung. Dan rasa serta pengalaman itulah yang kemudian menjadikan seorang pengemar (fans) musik sejati merasa ‘sempurna’ lahir dan batin.


Kesempurnaan yang diharapkan

Beberapa waktu yang lalu, saya menyaksikan konser sebuah grup band postrock asal Islandia bernama Sigur Ros. Itu ketiga kalinya saya menonton konser musisi luar negeri yang manggung di Indonesia. Sebelumnya saya telah menyaksikan konser band bernuansa melodic punk asal Amerika Serikat bernama No Use For a Name dan salah satu grup musik legendaris asal Manchester, Inggris, The Stone Roses.
Sigur Ros saat konser di Jakarta 

Masing-masing konser tersebut, mampu memberikan atmosfer pengalaman menonton konser yang berbeda sekaligus menimbulkan perasaan yang sama kepada diri saya. Ada benang merah yang saya rasakan ketika berada di tengah konser grup band itu berlangsung. Timbul rasa haru dan iri di dalam diri saya.

Haru karena bahagia bisa menyaksikan langsung grup band yang selama ini hanya bisa saya dengar di perangkat mp3 dan menonton videonya di youtube, ternyata bisa disaksikan secara langsung oleh mata kepala saya sendiri. Di sisi yang lain, saya merasa iri, karena sejujurnya saya belum merasakan euforia ‘kesempurnaan’ seperti fans dari ketiga grup band yang saya sebutkan di atas. Saya belum ‘naik haji’. Telinga saya belum benar-benar merasakan bagaimana reaksi eargasm sejati. Sebuah keberuntungan yang ‘sempurna’, sekaligus menimbulkan kontradiksi perasaan bagi saya ketika menonton ketiga grup band tersebut.

Sebenarnya, ada grup musik luar negeri yang saya idolakan sejak masih berseragam SMP. Saya benar-benar memimpikan bisa menonton konser mereka di Indonesia. Band itu adalah Radiohead. Grup musik yang beranggotakan Thom Yorke, Jonny Greenwood, Ed O'Brien, Colin Greenwood dan Phil Selway ini bukan saja bagus secara kualitas bermusik, namun juga karya lagunya menginspirasi saya di dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika sedang menulis.

Setiap kali mendengar Radiohead, otak saya seperti diajak untuk berimajinasi dan melarikan diri sejenak dari kekakuan duniawi. Saya terbuai dengan nada-nada variatif dan kreatif yang dihasilkan oleh Thom Yorke dkk. Saya bisa merasa bersemangat ketika mendengarkan lagu ‘Anyone Can Play Guitar’ (Pablo Honey-1993). Lalu, mendadak ikut bernyanyi saat ‘High and Dry’ (The Bends-1995) terdengar di telinga saya. Kemudian terperangah dan tanpa sadar, kepala saya ikut berdansa saat mendengar bunyi-bunyian ajaib dari modular synthesizer yang dimainkan oleh Jonny Greenwood dalam lagu ‘Idiotique’ (Kid A-2000). Dan merasa sangat gloomy ketika suara falsetto Thom Yorke menyanyikan ‘Codex’ (The King of Limbs-2011) lengkap dengan permainan piano yang khas.

Thom Yorke / doc www.spokeo.com
Benar-benar grup band yang jenius. Mereka bisa membawa penggemarnya ke area yang sangat substansial dan penuh abstraksi makna lewat musik dan liriknya. Mengutip dari web berita www.jakartabeat.net, Thom Yorke dengan sangat pintar mengadopsi gaya Dada cut-up dalam menuliskan setiap liriknya. Dimana sebuah teks dipotong-potong sedemikian rupa ke bagian-bagian yang lebih kecil secara acak, untuk kemudian dibentuk kembali dalam sebuah teks baru. Coba dengarkan dan resapi lagu demi lagu, maka kalian akan terbawa menuju petualangan magis yang tak bisa dirasakan oleh siapapun, kecuali diri sendiri.

Saya sering bertanya sendiri, kapan ya kira-kira bisa menyaksikan grup band asal  Oxfordshire, Inggris itu konser di Indonesia ?. Sampai saat ini, dengan sabar saya menanti mereka. Berharap-harap cemas menunggu kabar rencana konser mereka di Tanah Air. Tak jarang, saya mendapati kabar di dunia maya tentang isu rencana konser mereka di Indonesia, namun lagi-lagi pada akhirnya itu hanya hoax (berita tidak benar) saja.

Banyak spekulasi argumen yang beredar di kalangan penggemar Radiohead di Indonesia, mengenai pertanyaan mengapa hingga saat ini band yang telah mengeluarkan delapan album resmi itu tak kunjung datang ke Tanah Air. Padahal jika dihitung, fans Radiohead di Indonesia itu tergolong banyak dan banyak pula yang menunggu kedatangan mereka di sini.  Ada yang bilang, Radiohead  belum bersedia kemari karena faktor politik dan keamana negeri ini yang belum kondusif. Ada yang berujar Thom Yorke dkk tak mau datang ke negara yang belum melihat  pelestarian lingkungan hidup adalah sebuah hal yang penting.

Maklum saja, selain dikenal  sebagai aktivis politik yang anti terhadap WTO dan IMF, Thom Yorke juga dikenal orang sebagai musisi yang sangat peduli terhadap persoalan lingkungan hidup. Hal itu terlihat ketika ia sangat memperhatikan masalah penghematan energi dengan menggunakan 100 persen LED dalam tata cahaya panggung setiap kali Radiohead konser serta efesiensi pengangkutan peralatan tur untuk mengurangi proses carbon footprint.

Tapi menurut saya, semua spekulasi itu mungkin bisa jadi salah. Mungkin saja Thom Yorke dkk tidak tahu jika di belahan bumi yang lain, tepatnya di Indonesia, terdapat  ribuan atau bahkan ratusan ribu fans Radiohead yang menunggu penampilan mereka di sini. Jadi mungkin yang perlu para fans Radiohead di Tanah Air lakukan, termasuk saya, adalah ‘bernyanyi’ lebih kencang lagi. Mencoba meyakinkan mereka  bahwa negeri ini aman dan patut untuk masuk dalam rencana list tur konser mereka. 

Dan saya mengakhiri tulisan ini dengan “Jika siapa saja bisa bermain gitar, maka siapa saja juga bisa mendapatkan 'kesempurnaan' dari kecintaan mereka (fans) lewat menyaksikan secara langsung konser musisi idolanya, termasuk bagi mereka para fans Radiohead di Indonesia. Anyone Can See Radiohead Concert. So lets 'sing a long' together, mate's!

Kamis, 23 Mei 2013

Berani Untuk Menulis Kembali

 “Menulis adalah sebuah keberanian...”
Pramoedya Ananta Toer


Kutipan dari Pramoedya Ananta Toer, salah seorang sastrawan legendaris Indonesia itu saya lampirkan bukanlah tanpa alasan. Karena, baru saja saya mencoba untuk mengumpulkan remahan-remahan keberanian untuk menulis kembali di ruang ketik maya ini. Keberanian untuk meluangkan waktu di tengah-tengah pekerjaan saya yang tak kenal waktu.

Entah kapan saya terakhir benar-benar meluangkan waktu untuk mengisi ruang maya ini. Saya tidak terlalu ingat kapan saya mencoba untuk berbicara kembali dengan ide saya. Mencoba untuk menangkap apa mau nya sang imaji. Dan saat ini, saya mencoba kembali untuk berani berbagi tulisan dengan banyak orang.  Smoga dengan keberanian yang terus saya kumpulkan untuk menulis kembali di ruang maya ini, bisa menginspirasi dan menghibur yang membacanya.


Selamat menulis dan bertemu kembali, ruang maya! 

Selasa, 03 Januari 2012

MENGENAL ALAM ALA MONGOLIAN CAMP

Berkemah merupakan salah satu cara untuk mengenal alam dan lingkungan yang dapat dilakukan bersama-sama dengan keluarga ataupun teman. Selain mendekatkan diri kepada alam, kegiatan ini juga mampu mengusir rasa penat. Di kawasan Sukajadi, Bogor, Jawa Barat, terdapat sebuah tempat bernama The Highland Park Resort yang menawarkan konsep berkemah ala bangsa Mongol. Tempat ini biasa disebut Mongolian Camp.
Terletak pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut, Mongolian Camp menawarkan konsep berkemah yang berbeda pada umumnya. Kita tak perlu lagi membawa dan mendirikan tenda. Karena sudah ada 31 unit tenda yang berdiri kokoh dengan latar belakang pemandangan Gunung Salak yang asri dengan balutan udara yang sejuk. Kita dapat menginap di tenda-tenda berwarna putih seperti serasa berada di pemukiman bangsa Mongol dengan fasilitas hotel bintang lima di dalamnya.
Ada beragam fasilitas bermain yang terdapat di perkemahan Mongol pertama di Asia Tenggara ini, seperti area outbound, mini water boom, flying fox, lapangan futsal dan masih banyak lagi lainnya. Selain itu, di sisi sebelah timur, terdapat perkebunan tanaman hias krisan dan anthurium yang cukup luas. Bagi pecinta tanaman hias, hal ini tentunya menjadi nilai tambah tersendiri.
Menuju ke tenda tersebut, kita akan melewati jalan setapak yang terbuat dari marmer yang sengaja dibuat kasar agar tak licin bila dilalui. Di tepi-tepi jalan tersebut berbagai tanaman tertata dengan apik. Selain itu, barisan lampion berwarna-warni khas Mongol, tergantung di atas sepanjang area camp. Jika malam tiba, barisan lampion tersebut terlihat indah menerangi perkemahan. Sehingga semakin membuat hangat suasana.
Tak jauh dari Mongolian Camp, kita juga dapat melakukan kegiatan tracking di alam bebas menuju objek wisata Curug (air terjun), yaitu Curug Nangka. Jarak menuju gerbang Curug Nangka hanya sekitar 300 meter dari Mongolian Camp. Wisata air terjun yang sering didatangi dari berbagai lapisan masyarakat ini, merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Untuk menikmati pesona alam Curug Nangka, kita harus membayar karcis masuk sebesar Rp 7.500 / orang. Dari loket pembayaran, kita butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke curug tersebut dengan melalui kondisi trek jalan yang beragam, namun tetap menyenangkan. Barisan hutan pinus yang tinggi menjulang ‘siap menyapa’ para pengunjung yang baru datang. Sepanjang perjalanan menuju Curug, kita akan ‘dimanjakan’ oleh pemandangan hijau yang tenang nan rindang. Oleh karena itu, tak heran bila objek wisata ini selalu ramai bila akhir pekan tiba. Di kawasan ini juga, kita akan menjumpai kera ekor panjang (macaca fascicularis) yang turun untuk mencari makan.
Wisata Curug Nangka memiliki tiga tahap air terjun, yang masing-masing memiliki ketinggian 20-30 meter. Dengan urutan yang paling bawah adalah Curug Nangka, kemudian Curug Daun dan yang terakhir adalah Curug Kawung. Ketiga tahap air terjun ini selalu diminati para pengunjung untuk sekedar menikmati suasana alam serta mendengar gemericik air yang berasal dari kaki Gunung Salak ataupun merasakan segarnya berenang di air terjun ini.
Jika lelah dan lapar mendera akibat menempuh perjalanan ke curug, kita dapat menyambangi deretan penjual makanan dan minuman yang terletak di tempat parkir wisata ini. Dengan ramahnya mereka akan melayani pesanan kita. Beragam cinderamata khas kota Bogor pun juga tersedia di sini.
Berkemah dengan fasilitas hotel bintang lima ala Mongolian Camp dan mengenal pesona wisata alam Curug Nangka tidak hanya memberikan pengalaman yang menyenangkan, namun juga terbukti ampuh menghilangkan kepenatan.