Penulis : Adhitya P.
Pratama
![]() |
| Radiohead / doc www.lehighvalleylive.com |
Tetapi juga ‘kewajiban’ untuk merasakan secara live
bagaimana sang idola mempertunjukan karya terbaik musiknya dengan dukungan sound system berteknologi termutakhir, speaker
berkapasitas ribuan watt serta permainan tata cahaya panggung yang memukau.
Jika selama ini seorang fans dengan setia mendengar semua
karya lagu sang musisi. Lalu, menikmati dengan khusuk setiap lagunya dan diresapi
secara mendalam setiap liriknya. Hingga tak jarang, aura dari karya lagu-lagu itu
menempel sehingga menimbulkan inspirasi tersendiri di dalam kehidupan
sehari-hari sang penggemar. Maka datang dan menyaksikan langsung dengan mata
kepala sendiri konser dari musisi idola itu seperti ‘penyempurna’ bagi
seseorang dalam menikmati sebuah karya musik. Seperti sampai pada puncak tangga
teratas dalam proses mencari sisi maksimal menikmati karya musik sang artis.
Jangan heran apabila ada istilah ‘naik haji’ dan ‘umroh’ yang
beredar di kalangan penggemar musik. Istilah ‘naik haji’ dan ‘umroh’ bagi
mereka adalah jika berhasil menonton konser sang idola yang telah ditunggu
lama. Tanpa bermaksud menghina agama tertentu, istilah tersebut ada mungkin
karena untuk mewakili perasaan ‘sempurna’ itu.
Bagi saya, bisa merasakan secara langsung bagaimana atmosfer
dari sebuah pertunjukan konser musisi idola itu adalah sebuah anugerah. Apalagi
jika grup band atau musisi tersebut
berasal dari luar negeri dan termasuk kategori musisi yang sangat
popular di dunia.
Koor nyanyian bersama yang terus menerus berkumandang di
tengah-tengah crowd penonton. Riuh
rendah teriakan-teriakan kekaguman dan kecintaan. Tepukan tangan yang selalu
ada di tengah-tengah pergantian dari set list lagu satu ke lagu berikutnya. Serta
anggota badan yang selalu bergoyang setiap kali nada-nada dihentakan ke
telinga. Belum lagi, perasaan merinding yang timbul akibat reaksi eargasm. Eargasm merupakan puncak menikmati ‘syahwat musikal’ dari nada-nada
yang ditangkap oleh telinga kemudian merasuk ke hati dan menjalar ke otak. Dan
pada akhirnya membawakan sebuah pesan klimaks berupa rasa kepuasan tersendiri.
Hal-hal itulah yang saya temui dan rasakan ketika
berkesempatan menonton secara live konser musisi yang lagunya terhitung sering
masuk kedalam playlist mp3 saya. Bagi
saya, rasa dan pengalaman itu yang tidak bisa tergantikan dengan apapun.
Faktor-faktor itu yang menjadikannya sebuah anugerah tersendiri bagi para fans
yang berkesempatan untuk menyaksikan sang musisi idolanya manggung. Dan rasa
serta pengalaman itulah yang kemudian menjadikan seorang pengemar (fans) musik
sejati merasa ‘sempurna’ lahir dan batin.
‘Kesempurnaan’ yang diharapkan
Beberapa waktu yang lalu, saya menyaksikan konser sebuah
grup band postrock asal Islandia bernama Sigur Ros. Itu ketiga kalinya saya menonton konser musisi
luar negeri yang manggung di Indonesia. Sebelumnya saya telah menyaksikan konser
band bernuansa melodic punk asal Amerika Serikat bernama No Use For a Name dan salah
satu grup musik legendaris asal Manchester, Inggris, The Stone Roses.
Masing-masing
konser tersebut, mampu memberikan atmosfer pengalaman menonton konser yang
berbeda sekaligus menimbulkan perasaan yang sama kepada diri saya. Ada
benang merah yang saya rasakan
ketika berada di tengah
konser grup band itu berlangsung. Timbul rasa haru dan iri di dalam diri
saya.
Haru karena bahagia
bisa menyaksikan langsung grup
band yang selama ini hanya bisa saya dengar di perangkat mp3 dan menonton videonya
di youtube, ternyata bisa disaksikan secara langsung oleh mata kepala saya
sendiri. Di sisi yang lain, saya merasa iri, karena sejujurnya saya belum merasakan euforia
‘kesempurnaan’ seperti fans dari ketiga grup band yang saya sebutkan di atas.
Saya belum ‘naik haji’. Telinga saya belum benar-benar merasakan bagaimana
reaksi eargasm sejati. Sebuah
keberuntungan yang ‘sempurna’, sekaligus menimbulkan kontradiksi perasaan bagi
saya ketika menonton ketiga grup band tersebut.
Sebenarnya, ada grup
musik luar negeri yang saya idolakan sejak masih berseragam SMP. Saya benar-benar
memimpikan bisa menonton konser mereka di Indonesia. Band itu adalah Radiohead. Grup musik yang beranggotakan Thom Yorke, Jonny Greenwood, Ed O'Brien, Colin Greenwood dan
Phil Selway ini bukan saja bagus secara kualitas bermusik,
namun juga karya lagunya menginspirasi saya di dalam kehidupan sehari-hari,
terutama ketika sedang menulis.
Setiap kali
mendengar Radiohead, otak saya seperti diajak untuk berimajinasi dan melarikan
diri sejenak dari kekakuan duniawi. Saya terbuai
dengan nada-nada variatif dan kreatif yang dihasilkan oleh Thom Yorke dkk. Saya
bisa merasa bersemangat ketika mendengarkan lagu ‘Anyone Can Play Guitar’
(Pablo Honey-1993). Lalu, mendadak
ikut bernyanyi saat ‘High and Dry’ (The Bends-1995) terdengar di telinga saya.
Kemudian terperangah dan tanpa sadar, kepala saya ikut berdansa saat mendengar
bunyi-bunyian ajaib dari modular synthesizer yang dimainkan oleh Jonny Greenwood dalam
lagu ‘Idiotique’ (Kid A-2000). Dan merasa sangat gloomy ketika suara falsetto Thom Yorke menyanyikan ‘Codex’ (The
King of Limbs-2011) lengkap dengan permainan piano yang khas.
![]() |
| Thom Yorke / doc www.spokeo.com |
Saya sering
bertanya sendiri, kapan ya kira-kira bisa menyaksikan grup band asal Oxfordshire, Inggris itu konser di Indonesia ?. Sampai saat ini, dengan
sabar saya menanti mereka. Berharap-harap cemas menunggu kabar rencana konser
mereka di Tanah Air. Tak jarang, saya mendapati kabar di dunia maya tentang isu
rencana konser mereka di Indonesia, namun lagi-lagi pada akhirnya itu hanya hoax
(berita tidak benar) saja.
Banyak spekulasi
argumen yang beredar di kalangan penggemar Radiohead di Indonesia,
mengenai pertanyaan mengapa hingga
saat ini band yang telah mengeluarkan delapan album resmi itu tak kunjung
datang ke Tanah Air. Padahal jika dihitung, fans Radiohead di Indonesia itu
tergolong banyak dan banyak pula yang menunggu kedatangan mereka di sini. Ada yang bilang, Radiohead belum bersedia kemari karena faktor politik
dan keamana negeri ini yang belum kondusif. Ada yang berujar Thom Yorke dkk tak
mau datang ke negara yang belum melihat pelestarian
lingkungan hidup adalah sebuah hal yang penting.
Maklum saja, selain dikenal sebagai aktivis politik yang anti terhadap WTO dan
IMF, Thom Yorke juga dikenal orang sebagai musisi
yang sangat peduli terhadap
persoalan lingkungan hidup. Hal itu terlihat ketika ia sangat memperhatikan
masalah penghematan energi dengan menggunakan 100 persen LED dalam tata cahaya
panggung setiap kali Radiohead konser serta efesiensi pengangkutan peralatan
tur untuk mengurangi proses carbon
footprint.
Tapi menurut saya, semua spekulasi itu mungkin bisa jadi
salah. Mungkin saja Thom Yorke dkk tidak tahu jika di belahan bumi yang lain,
tepatnya di Indonesia, terdapat ribuan
atau bahkan ratusan ribu fans Radiohead yang menunggu penampilan mereka di
sini. Jadi mungkin yang perlu para fans Radiohead di Tanah Air lakukan,
termasuk saya, adalah ‘bernyanyi’ lebih kencang lagi. Mencoba meyakinkan mereka bahwa negeri ini aman dan patut untuk masuk dalam
rencana list tur konser mereka.
Dan saya mengakhiri tulisan ini dengan “Jika siapa saja bisa bermain gitar,
maka siapa saja juga bisa mendapatkan 'kesempurnaan' dari kecintaan mereka
(fans) lewat menyaksikan secara langsung konser musisi idolanya, termasuk bagi
mereka para fans Radiohead di Indonesia. Anyone Can See Radiohead Concert. So lets 'sing a long' together, mate's!

.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar