Minggu, 26 Mei 2013

Arti ‘Kesempurnaan’ Bagi Seorang Fans Musik




Penulis : Adhitya P. Pratama

Radiohead / doc www.lehighvalleylive.com
Jika ditanya, hal apa yang menjadikan seorang pengemar (fans) musik sejati merasa ‘sempurna’? Maka tanpa ragu saya akan berpendapat ketika mereka bisa menyaksikan langsung konser sang musisi idola. Kenapa? Karena bagi saya, ngefans dengan penyanyi atau grup musik tertentu, bukan sebatas tahu dan hapal semua lirik lagu dari band itu. Bukan saja soal berhasil mendapatkan kaset / CD / Vinyl album langka sang idola. Bukan sebatas bangga memakai kaos official dari grup band atau musisi tersebut. Dan bukan saja hanya sekedar poster musisi itu saja yang tertempel erat di dinding ruang kamar tidur sang penggemar. 

Tetapi juga ‘kewajiban’ untuk merasakan secara live bagaimana sang idola mempertunjukan karya terbaik musiknya dengan dukungan sound system berteknologi termutakhir, speaker berkapasitas ribuan watt serta permainan tata cahaya panggung yang memukau. 

Jika selama ini seorang fans dengan setia mendengar semua karya lagu sang musisi. Lalu, menikmati dengan khusuk setiap lagunya dan diresapi secara mendalam setiap liriknya. Hingga tak jarang, aura dari karya lagu-lagu itu menempel sehingga menimbulkan inspirasi tersendiri di dalam kehidupan sehari-hari sang penggemar. Maka datang dan menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri konser dari musisi idola itu seperti ‘penyempurna’ bagi seseorang dalam menikmati sebuah karya musik. Seperti sampai pada puncak tangga teratas dalam proses mencari sisi maksimal menikmati karya musik sang artis.
Jangan heran apabila ada istilah ‘naik haji’ dan ‘umroh’ yang beredar di kalangan penggemar musik. Istilah ‘naik haji’ dan ‘umroh’ bagi mereka adalah jika berhasil menonton konser sang idola yang telah ditunggu lama. Tanpa bermaksud menghina agama tertentu, istilah tersebut ada mungkin karena untuk mewakili perasaan ‘sempurna’ itu.

Bagi saya, bisa merasakan secara langsung bagaimana atmosfer dari sebuah pertunjukan konser musisi idola itu adalah sebuah anugerah. Apalagi jika grup band atau musisi tersebut  berasal dari luar negeri dan termasuk kategori musisi yang sangat popular di dunia.

Koor nyanyian bersama yang terus menerus berkumandang di tengah-tengah crowd penonton. Riuh rendah teriakan-teriakan kekaguman dan kecintaan. Tepukan tangan yang selalu ada di tengah-tengah pergantian dari set list lagu satu ke lagu berikutnya. Serta anggota badan yang selalu bergoyang setiap kali nada-nada dihentakan ke telinga. Belum lagi, perasaan merinding yang timbul akibat reaksi eargasm. Eargasm merupakan puncak menikmati ‘syahwat musikal’ dari nada-nada yang ditangkap oleh telinga kemudian merasuk ke hati dan menjalar ke otak. Dan pada akhirnya membawakan sebuah pesan klimaks berupa rasa kepuasan tersendiri.

Hal-hal itulah yang saya temui dan rasakan ketika berkesempatan menonton secara live konser musisi yang lagunya terhitung sering masuk kedalam playlist mp3 saya. Bagi saya, rasa dan pengalaman itu yang tidak bisa tergantikan dengan apapun. Faktor-faktor itu yang menjadikannya sebuah anugerah tersendiri bagi para fans yang berkesempatan untuk menyaksikan sang musisi idolanya manggung. Dan rasa serta pengalaman itulah yang kemudian menjadikan seorang pengemar (fans) musik sejati merasa ‘sempurna’ lahir dan batin.


Kesempurnaan yang diharapkan

Beberapa waktu yang lalu, saya menyaksikan konser sebuah grup band postrock asal Islandia bernama Sigur Ros. Itu ketiga kalinya saya menonton konser musisi luar negeri yang manggung di Indonesia. Sebelumnya saya telah menyaksikan konser band bernuansa melodic punk asal Amerika Serikat bernama No Use For a Name dan salah satu grup musik legendaris asal Manchester, Inggris, The Stone Roses.
Sigur Ros saat konser di Jakarta 

Masing-masing konser tersebut, mampu memberikan atmosfer pengalaman menonton konser yang berbeda sekaligus menimbulkan perasaan yang sama kepada diri saya. Ada benang merah yang saya rasakan ketika berada di tengah konser grup band itu berlangsung. Timbul rasa haru dan iri di dalam diri saya.

Haru karena bahagia bisa menyaksikan langsung grup band yang selama ini hanya bisa saya dengar di perangkat mp3 dan menonton videonya di youtube, ternyata bisa disaksikan secara langsung oleh mata kepala saya sendiri. Di sisi yang lain, saya merasa iri, karena sejujurnya saya belum merasakan euforia ‘kesempurnaan’ seperti fans dari ketiga grup band yang saya sebutkan di atas. Saya belum ‘naik haji’. Telinga saya belum benar-benar merasakan bagaimana reaksi eargasm sejati. Sebuah keberuntungan yang ‘sempurna’, sekaligus menimbulkan kontradiksi perasaan bagi saya ketika menonton ketiga grup band tersebut.

Sebenarnya, ada grup musik luar negeri yang saya idolakan sejak masih berseragam SMP. Saya benar-benar memimpikan bisa menonton konser mereka di Indonesia. Band itu adalah Radiohead. Grup musik yang beranggotakan Thom Yorke, Jonny Greenwood, Ed O'Brien, Colin Greenwood dan Phil Selway ini bukan saja bagus secara kualitas bermusik, namun juga karya lagunya menginspirasi saya di dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika sedang menulis.

Setiap kali mendengar Radiohead, otak saya seperti diajak untuk berimajinasi dan melarikan diri sejenak dari kekakuan duniawi. Saya terbuai dengan nada-nada variatif dan kreatif yang dihasilkan oleh Thom Yorke dkk. Saya bisa merasa bersemangat ketika mendengarkan lagu ‘Anyone Can Play Guitar’ (Pablo Honey-1993). Lalu, mendadak ikut bernyanyi saat ‘High and Dry’ (The Bends-1995) terdengar di telinga saya. Kemudian terperangah dan tanpa sadar, kepala saya ikut berdansa saat mendengar bunyi-bunyian ajaib dari modular synthesizer yang dimainkan oleh Jonny Greenwood dalam lagu ‘Idiotique’ (Kid A-2000). Dan merasa sangat gloomy ketika suara falsetto Thom Yorke menyanyikan ‘Codex’ (The King of Limbs-2011) lengkap dengan permainan piano yang khas.

Thom Yorke / doc www.spokeo.com
Benar-benar grup band yang jenius. Mereka bisa membawa penggemarnya ke area yang sangat substansial dan penuh abstraksi makna lewat musik dan liriknya. Mengutip dari web berita www.jakartabeat.net, Thom Yorke dengan sangat pintar mengadopsi gaya Dada cut-up dalam menuliskan setiap liriknya. Dimana sebuah teks dipotong-potong sedemikian rupa ke bagian-bagian yang lebih kecil secara acak, untuk kemudian dibentuk kembali dalam sebuah teks baru. Coba dengarkan dan resapi lagu demi lagu, maka kalian akan terbawa menuju petualangan magis yang tak bisa dirasakan oleh siapapun, kecuali diri sendiri.

Saya sering bertanya sendiri, kapan ya kira-kira bisa menyaksikan grup band asal  Oxfordshire, Inggris itu konser di Indonesia ?. Sampai saat ini, dengan sabar saya menanti mereka. Berharap-harap cemas menunggu kabar rencana konser mereka di Tanah Air. Tak jarang, saya mendapati kabar di dunia maya tentang isu rencana konser mereka di Indonesia, namun lagi-lagi pada akhirnya itu hanya hoax (berita tidak benar) saja.

Banyak spekulasi argumen yang beredar di kalangan penggemar Radiohead di Indonesia, mengenai pertanyaan mengapa hingga saat ini band yang telah mengeluarkan delapan album resmi itu tak kunjung datang ke Tanah Air. Padahal jika dihitung, fans Radiohead di Indonesia itu tergolong banyak dan banyak pula yang menunggu kedatangan mereka di sini.  Ada yang bilang, Radiohead  belum bersedia kemari karena faktor politik dan keamana negeri ini yang belum kondusif. Ada yang berujar Thom Yorke dkk tak mau datang ke negara yang belum melihat  pelestarian lingkungan hidup adalah sebuah hal yang penting.

Maklum saja, selain dikenal  sebagai aktivis politik yang anti terhadap WTO dan IMF, Thom Yorke juga dikenal orang sebagai musisi yang sangat peduli terhadap persoalan lingkungan hidup. Hal itu terlihat ketika ia sangat memperhatikan masalah penghematan energi dengan menggunakan 100 persen LED dalam tata cahaya panggung setiap kali Radiohead konser serta efesiensi pengangkutan peralatan tur untuk mengurangi proses carbon footprint.

Tapi menurut saya, semua spekulasi itu mungkin bisa jadi salah. Mungkin saja Thom Yorke dkk tidak tahu jika di belahan bumi yang lain, tepatnya di Indonesia, terdapat  ribuan atau bahkan ratusan ribu fans Radiohead yang menunggu penampilan mereka di sini. Jadi mungkin yang perlu para fans Radiohead di Tanah Air lakukan, termasuk saya, adalah ‘bernyanyi’ lebih kencang lagi. Mencoba meyakinkan mereka  bahwa negeri ini aman dan patut untuk masuk dalam rencana list tur konser mereka. 

Dan saya mengakhiri tulisan ini dengan “Jika siapa saja bisa bermain gitar, maka siapa saja juga bisa mendapatkan 'kesempurnaan' dari kecintaan mereka (fans) lewat menyaksikan secara langsung konser musisi idolanya, termasuk bagi mereka para fans Radiohead di Indonesia. Anyone Can See Radiohead Concert. So lets 'sing a long' together, mate's!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar